Pagi itu serasa lebih cerah daripada biasanya. Matahari yang terasa hangat, angin sepoi-sepoi lembut, aroma garam yang pekat, ternyata saran Emilia untuk berlibur ke Malang adalah pilihan yang tepat. Sekarang mereka sedang berada di Pantai Tiga Warna dan kini Hans mendapati kakinya yang basah karena deburan ombak yang mencium lembut bibir pantai. Alan berteriak kesenangan tiap kali ombaknya mendekat.
Di sana juga ada Emilia yang memilih untuk sibuk bermain pasir pantai. Mainan pasir yang Hans belikan untuk Alan ternyata lebih cocok dipakai anak berumur 312 bulan. Oh, di pantai itu juga ada Bu Minah, sebagai anggota tertua Bu Minah memiliki tugas penting di acara liburan keluarga kali ini, yaitu: pengawasan.
Oleh sebab itu kalian bisa menemukannya bersantai di kursi pantai menegak air degan besar yang baru dia beli. Kiranya wanita paruh baya itu tahu betul bagaimana menikmati tugas pengawasannya.
Adapun Bonaparte dengan gentlemen menerima tugas sebagai penjaga rumah. Tanpa Hans tahu betapa kucing gembil itu mengharapkan hari-hari penuh kedamaian seperti ini. Justru ini berita buruk bagi Hans, karena siapa lagi yang menemaninya di fase paling krusial dalam hidupnya.
Contohnya seperti tadi malam di saat mereka menginap di hotel, Alan justru dengan polosnya menyapa seorang teman baru. Tentu saja, Hans tidak pernah suka dengan konsep teman baru Alan. Katanya teman barunya adalah seorang wanita cantik dengan gaun yang suka di bicarakan teman-teman perempuannya di sekolah. Sebagai seorang ayah tentu Hans tidak ingin di pandang sebagai pria lemah oleh anaknya.
“Katakan padanya, sudah malam waktunya tidur bukan pamer gaun.” begitu katanya dengan senyum yang di paksakan.
Ketika Hans ingin menenangkan diri dan menyelesaikan urusannya di toilet, Alan justru menemukan teman baru lainnya.
Dengan tegas Hans membawa rombongan itu ke hotel lainnya. Emilia setengah mati menahan tawa, geli melihat tingkah Hans. Emilia tidak pernah menyangka ternyata ayah dari anak pemberani seperti Alan adalah seorang penakut tingkat berat. Sedikit banyak Emilia pun akhirnya tahu bahwa Bonaparte berperan sebagai personal mental support Hans. Itu sebabnya dia sudah melihat semburat kegelisahan di wajah Hans sejak kemarin saat akan berangkat liburan. Pria tampan yang penakut, kurang lebih seperti itu pendapat Emilia tentang Hans.
“Ayo semuanya, lihat sudah jam berapa ini? Waktunya makan.” kata Bu Minah.
Agenda liburan mereka tidak hanya ke pantai, tetapi juga ke perkebunan buah dan pembudidayaan bunga anggrek milik Hans. Mereka pergi ke perkebunan buah terlebih dahulu. Perkebunan yang biasa hanya dapat di lihat Emilia di kartun-kartun masa kecilnya kini menjadi nyata. Sampai malam tiba pun rasanya Emilia tak akan sanggup menjelajahi tempat itu sampai tuntas. Alan yang di beri keranjang oleh salah satu pegawai Hans, sekarang tengah sibuk memetik stroberi dan segera memakannya, sehingga keranjang itu tidak pernah terisi sampai mereka pulang. Bu Minah dengan kantong plastiknya memetik dengan kolektif stroberi-stroberi untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh. Lagi pula siapa yang bisa menahan diri ketika melihat stroberi-stroberi merah gendut nan manis melimpah ruah.
Selesai wisata buah-buahan dengan perut kenyang, kini mereka mendarat di pembudidayaan bunga anggrek. Alan yang perutnya sudah kenyang memilih tidur di mes yang disediakan Hans untuk pegawainya. Bu Minah, hanya melihat-lihat sebentar lalu menyusul menemani Alan tidur, menyisakan Emilia.
Setelah mengecek laporan dan beberapa pekerjaan di sana, Hans ikut menemani Emilia.
“Apa kamu pernah merawat anggrek?” Kata Hans sembari memperhatikan kelopak anggrek.
“Oh, iya dulu di rumah mama pernah punya bunga anggrek. Tapi tak pernah aku lihat anggrek secantik dan beragam warna seperti ini.” Jawab Emilia agak terkejut dan salah tingkah.
“Semua anggrek di sini masuk pasar ekspor dan di bagian sini namanya varian Dendrobium. Di Jepang dia jadi primadona untuk ikebana. Apalagi dia anggrek yang punya daya tahan paling bagus. Jadi cocok juga untuk pemula.”
“Begitu ya.”
“Kalau ada yang kamu suka, kamu bisa ambil. Mamamu pasti juga suka.”
“Ah, terima kasih.” Pipi Emilia bersemu.
“Sebenarnya waktu Mas Hans minta rekomendasi liburan saya pilih Malang, itu karena saya penasaran sama tempat budidaya anggrek Mas. Menurutku, Mas paling enjoy tiap kali rawat tanaman yang ada di rumah. Yang di rumah saja bisa sebagus itu apalagi yang di sini, begitu pikirku.”
“Oh, ya? Hahaha, aku memang sudah suka bunga sedari kecil. Bahkan dulu nenek punya taman bunga. Sebenarnya, sebelumnya tanaman di rumah ada lebih banyak. Saat itu istriku yang merawatnya. Lalu semenjak dia tidak ada, rasanya jauh lebih sulit merawatnya jadi sekarang aku hanya merawat yang bisa kurawat saja. Ah, dia meninggal ketika melahirkan Alan. Aduh, maaf aku malah bicara yang tidak perlu.” Emilia sebelumnya sudah di beritahu oleh Bu Minah tentang kematian istri Hans. Dengan melihatnya sekarang, dada Emilia sesak melihat pria itu masih berduka setelah sekian tahun.
“Pasti berat untuk Mas Hans.” Hans hanya menggeleng, mereka terdiam sebentar.
“Ah, Mas sebenarnya ada yang mau aku omongin.”
“Oh, Iya? Soal apa?”
“Ini soal Alan. Hmm, jadi ....”
“Mas Hans!” pekik Bu Minah tergopoh-gopoh.
“Ada apa Bu?”
“Alan, badannya panas.”
Alan segera di larikan ke rumah sakit. Setelah di periksa hasil labnya menyatakan kalau Alan terkena DBD. Padahal anak itu baru saja bisa bersenang-senang. Hans juga yang tadinya santai, sekarang menjadi cemas dan gelisah.