Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #9

Konfrontasi

Hans berputar-putar dalam pikirannya yang berkecamuk. Kata-kata Bima berhasil membuatnya mempertanyakan kembali atas segala keputusan yang dia buat. Hans baru menjadi manusia merdeka ketika dia berhasil membangun usahanya sendiri.

Masa muda Hans dihabiskan untuk mempersiapkan masa depannya. Hans tahu betul bagaimana sebuah bisnis yang di bangun bisa runtuh dalam sekedipan mata. Kemelut hancurnya ekonomi di tahun 98 melumat habis sendi-sendi dalam bisnis ayahnya.

Meskipun ayahnya berhasil bangkit, perjuangannya tidaklah mudah. Hans menjadi saksi seberapa besar pengorbanan dan keringat ayahnya. Oleh sebab itu, Hans hidup dengan berlari di jalan beraspal. Sebuah jalan yang disediakan orang tuanya agar Hans memiliki masa depan yang baik.

Karena beban ekspektasi dan moral yang diembannya, Hans memiliki ketakutan mengecewakan orang-orang di sekelilingnya. Yang ia tahu hanya bagaimana dia bisa mencapai puncak. Dan Hans juga tahu bagaimana perasaan itu mampu menghabisinya sebelum mencapai puncak.

Hans mulai menetapkan aturan pada dirinya, yaitu di detik ia berhasil mencapai puncak, maka dia adalah manusia yang merdeka.

Hans akhirnya berhasil mencicipi nikmatnya kebebasan. Yang walaupun perlahan memberikan jarak antara dirinya dan orang tuanya juga orang di sekitarnya. Hans paham betul tanggung jawab dari setiap keputusannya, baginya resiko bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang siap diterimanya. Hingga pilihannya bukan hanya tentang Hans, tetapi juga menyangkut orang lain. Sebenarnya keputusan yang ia buat baik untuknya, atau untuk orang lain, atau untuk keduanya?

Hans yang masih terjebak dengan untaian pertanyaan dan keraguan. Tanpa jawaban pasti, Hans terus di hadapkan pilihan sulit.

“Apa katamu, Em?” kata Hans yang masih tak percaya dengan yang di dengarnya.

“Yang Mas dengar itu benar. Aku bisa melihat apa yang dilihat Alan. Maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang, karena dengan segala hal yang terjadi aku tidak ingin menambah beban Mas Hans.”

“Baik, terima kasih telah memberi tahuku. Itu bagus Em, dengan ini ada seseorang yang bisa mengerti Alan. Tetapi ....” Hans memijat keningnya. “Karena kamu bisa melihat apa yang Alan lihat, berarti kamu tahu apa yang salah dengan Alan, betul? Dan meskipun kamu tahu, kamu tidak segera memberitahuku? Maksudku kau tahu seburuk apa situasinya dan dengan kamu memberitahuku lebih awal, mungkin saja ada yang bisa aku atau kamu lakukan, benar.”

“Bukannya aku tidak mau membantu, tetapi ini semua di luar kuasaku. Ada sesuatu yang menempel pada Alan dan tidak ingin melepaskannya. Aku sudah mencoba berkomunikasi, memperhatikan setiap gerak-geriknya, mencari informasi tetapi nihil. Yang menempel pada Alan adalah Sosok Hitam, lebih tepatnya dia seperti gumpalan kabut tanpa wajah. Makhluk itu pernah sekali menampakkan separuh wajahnya, itu pun saat kejadian di danau.”

“Menurutmu apa yang membuatnya menempel pada Alan?”

Lihat selengkapnya