Hans terbangun karena sesak napas, dikiranya dia mengalami ketindihan dan betul saja dia di tindih oleh Bonaparte.
“astaghfirullahaladzim,” pekik Bu Minah melihat kepala Hans menyembul dari balik sofa.
“Mas Hans tidur di sofa semalam?” selama bekerja dengan Hans Bu Minah tidak pernah melihat sosok Hans yang baru bangun tidur. Dimata Bu Minah, Hans adalah pria yang sangat disiplin, sangat tertata, sangat sopan, sangat terampil, sangat sayang anak dan sangat penakut. Hans bagai robot, jadi penampilannya sekarang memperlihatkan kalau dia juga pria biasa.
“Sudah jam 6, ya”
“Iya, sudah jam 6, mangkanya Ibu ada di sini. Padahal enak tidur di kasur malah tidur di sofa, to,”
“Awalnya karena nggak bisa tidur, habis itu tiba-tiba ketiduran. Yah, sekali-kali tidur di sofa juga nyaman, kok.” kata Hans sambil menguap.
“Ada-ada saja Mas Hans. Eh, gantengnya Bu Minah sudah bangun.” Sekarang giliran Alan yang baru bangun menguap, semakin mirip saja anak beranak itu.
“Ya, sudah, aku juga mau siap-siap kerja. Oh, iya, bukankah Emilia harusnya sudah datang?”
“Oh, Emilia katanya tidak enak badan hari ini. Ibu kira dia sudah beritahu Mas. Padahal kemarin sepertinya dia baik-baik saja, ya. Namanya sakit tidak ada yang tahu ya, kita harus jaga kesehatan.”
“Hmm, semoga dia lekas sembuh.” Aduh, keluh Hans teringat kejadian tadi malam. Ah, tidak ada waktu memikirkannya dia harus berangkat kerja dan mengantar Alan sekolah.
Sebaliknya ada Nayla yang terpaksa menjadi induk semang bagi kawannya. Sesi ratapan kedua Emilia lebih lama dari yang dia kira. Nayla, sudah jengah menunggu Emilia. Dia meninggalkan Emilia sebentar sambil membawa nasi padang hangat. Dibukanya bungkus nasi padang dimana kipas angin mengarah pada Emilia.
Emilia mengendus aromanya, melirik Nayla yang makan sendiri tanpa mengajaknya. Sebagai wanita, Nayla tahu kalau tidak ada gunanya berurusan dengan wanita lapar. Maka yang di perlukan adalah memastikan perutnya terisi.
“Aku merasa terlalu ikut campur Nay.” Kata Emilia yang sedang menyantap nasi padang yang sudah disiapkan Nayla untuknya.
“Biar kutebak, karena kamu berniat membantu Mas Hans tetapi malah tidak bisa mengatakannya dengan benar jadi dia salah paham? Jadi itu yang membuatmu merana?” Emilia mengangguk kemudian menggeleng, Nayla sampai geleng-geleng melihatnya.
“Benar, karena aku tidak mengatakannya dengan jelas atau setidaknya menunjukkan empati. Harusnya aku paham tidak masalah kalau Mas Hans menolak saranku, bodohnya aku malah sakit hati Nay. Setelah kupikirkan aku jadi sadar, aku bukan sedih karena dia menolak saranku tapi aku justru sedih karena merasa seakan aku tidak di butuhkan dan aku marah karena merasa seperti itu. Jadi ini bukan salah Mas Hans dan sekarang aku justru semakin membebaninya.”
Hati Nayla pedih melihat temannya, tidak menyangka kalau Emilia yang dia kenal jadi begini. Emilia bukanlah seseorang yang bisa dengan mudah terbawa perasaan. Ternyata perasaan Emilia lebih dalam dari yang dikiranya. Sedangkan Hans just a man in love, meskipun istrinya sudah tidak lagi berada di sisinya.
“Jadi apa rencanamu, Em?”
“Aku ingin membereskannya.”
Malam itu Emilia bertekad meminta maaf secara langsung dan mencoba meluruskan kesalahpahaman yang terjadi dengan Hans. Baru saja dia bicara seperti itu kepada Nayla, nyatanya semakin dekat rumah Hans langkah kakinya makin berat. Belum-belum sejak tadi dia memikirkan kata-kata apa yang akan di ucapkannya bila bertemu Hans nanti.