Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #11

Pasrah Saja

Hari itu adalah mimpi buruk Bu Minah. Seisi rumah telah dijadikan jamban oleh Bonaparte. Entah apa yang ada di pikiran kucing gembil terhormat itu sampai melakukan kegiatan tidak beretika. Kucing itu tahu telah berbuat salah, tidak terlihat batang hidungnya dan tentu saja Hans yang harus menanggung kemarahan Bu Minah. Hans hanya terpekur mendengar dengan khidmat setiap rentetan omelan Bu Minah.

“Mas Hans, apa yang terjadi tadi malam? Tangan terluka dan kemana perginya kucing itu? Ya Allah ..., bisa bayangkan berapa banyak waktu untuk membersihkan ini semua? Mas Hans juga, bisa-bisanya nyaman tidur. Oh, pasti hidungmu sudah tidak berfungsi!” Hardik Bu Minah.

“Saya terima salah Bu Minah. Saya tidak tahu kalau Bonaparte melakukan hal tidak senonoh macam ini. Perasaan tadi malam rumah ini masih bersih kinclong tanpa noda.”

“Itulah yang kumaksud, Tapi lihat, semua kotoran itu bukanlah kotoran baru. Dia pasti melakukan perbuatan bejat itu tadi malam. Dan Mas Hans bagaimana bisa Mas Hans tidur nyenyak tanpa terganggu dengan baunya? Hei, kau Emilia cepat lihat rumah ini macam penampungan tinja.” Keluh Bu Minah, saat melihat Emilia yang masuk rumah bagaimana tahanan mencoba kabur.

“Hmm, sepertinya kita harus bekerja lebih keras hari ini.” Jawab Emilia hati-hati.

“Mas Hans sungguh tidak tahu?”

“Benar Bu, saya tidak tahu. ” Kata Hans dengan mengayunkan tangannya.

“Pertanyaan terakhir, tangan Mas Kenapa?”

“Oh ..., ini karena yah ... Aku mencoba memasak tapi ternyata lebih sulit dari dugaanku. Sampai aku tidak sadar melukai tanganku sendiri.” Melihat tatapan Bu Minah, Hans memilih memalingkan muka. Dasar aneh, begitu pikir Bu Minah.

“Baiklah ayo Emilia kita segera membersihkan ini semua dan tolong kamu cari kucing itu karena pria penakut kita tidak bisa hidup tanpanya. Aku sungguh ingin mendamprat kucing itu sekarang.” Saat Hans bersiap kabur, Bu Minah melanjutkan kata-katanya, “Kalau sampai hal ini terjadi lagi, itu bukan urusanku.” Hans hanya menelan ludah dan mengangguk takzim.

Bonaparte dengan perut buncitnya yang tidak boleh kosong barang sedikit saja, tidak terpancing saat Emilia mengocok wadah makannya. Tidak pula suka keluar rumah karena mudah kegerahan atau sekedar mencari validasi agar disebut preman kampung, tidak pula mencari janda kompleks sebelah karena dia sudah di streril.

Emilia sudah berusaha mencari di setiap sudut rumah, nihil. Hanya satu tempat yang belum ia masuki yaitu kamar Hans. Kebetulan Hans sedang ada keperluan jadi dia pergi keluar sementara. Curiga Bonaparte bersembunyi disana, ini menjadi kesempatannya mengecek.

Emilia terus memanggil Bonaparte, segera mengecek kolong kasur dan menemukan kucing itu.

“Hei, Bonaparte kamu kenapa sembunyi disini?” kucing itu tampak ketakutan. Di lihat dari reaksinya bisa jadi dia buang hajat sembarangan saat Sosok Hitam muncul. Malangnya.

“Tidak apa Bonaparte, kamu pasti ketakutan karena kejadian semalam, kan? Maaf, sekarang keluarlah aku janji, kejadian semalam tidak akan terulang lagi.”

Seakan mengerti ucapan Emilia, kucing itu keluar dari kolong kasur, lantas mengusapkan kepalanya pada Emilia, lalu menggendongnya.

Emilia baru sempat mengamati mengamati kamar Hans, kamar itu terbilang sederhana dan rapi, cukup untuk menggambarkan seorang Hans. Tidak ada ornamen apa pun selain lampu tidur dan tanaman.

Lihat selengkapnya