Cukup dengan meditasi selama 10 menit sehari.
Stres bisa berkurang,
Tekanan darah turun,
Daya tahan tubuh meningkat,
Tidur lebih nyenyak,
Menjadi lebih tenang dan fokus,
Sampai mengurasi rasa cemas dan sedih.
Itu yang di katakan seorang pria di iklan. Untuk Hans, dia seperti mendapatkan ilham. Barangkali, dengan meditasi bisa menjadi obat atas perasaan-perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Dengan begitu dia bisa lebih fokus memikirkan dan menyusun rencana selanjutnya.
Ya, pada akhirnya harapannya pupus. Rumah mungil Hans ketambahan anggota baru. Bima, datang tanpa undangan. Bima memang dekat sekali dengan Ibu Hans sejak kuliah. Karena wanita itu menitipkan anaknya yang kikuk padanya. Tentu saja Bima menerimanya dengan senang hati terlebih sebagai sesama penggosip ulung, tak butuh waktu lama mereka menjadi akbrab.
Emilia, Bu Minah dan Alan ikut nimbrung bersama. Mereka seperti magnet yang saling tarik menarik. Bahkan Bonaparte, kawan pendengar setia curahan hati bapak-bapaknya, telah terang-terangan mengkhianati. Si kucing gembil itu memilih meringkuk di pangkuan Ibunya. Bisa di bilang Ibu Hans, adalah Ibu semua orang.
Mendengar suara mereka Hans tidak bisa berkonsentrasi untuk meditasi.
“Tante, kapan sampai di sini?” celetuk Bima.
“Baru dua hari yang lalu. Aku cemas sekali saat di beritahu Bu Minah kalau Alan terkena DBD, sayangnya waktu itu Tante tidak bisa segera kesini. Waktu itu Tante masih masa kemo.”
“Kemo?” tanya, Emilia memastikan apa yang di dengarnya.
“Betul, kemo. Tante ada kanker, jangan khawatir, baru stadium awal. Tante sudah mendapat penanganan terbaik.” Emillia yang terhenyak mencoba untuk tersenyum. Hans yang juga ikut mendengarkan hatinya ngilu.
“Bu Minah apa di kulkas ada buah?” tanya Ibu Hans.
“Sudah habis, tadi mau beli di langganan ternyata sedang libur.”