Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #13

Membulatkan Keputusan

Hans terlempar jauh ke tempat pameran seni Eva. Hans ingat, saat itu Eva yang awalnya iseng mengundangnya tidak menyangka akan kehadirannya. Hans bukanlah pria bodoh, secara akademik dia salah satu yang terbaik di angkatannya. Anehnya, kadang sekonyong-konyong, kemampuan membacanya sangat buruk. Eva yang mengirim pesan tuntuk memberitahu pameran yang akan dia adakan, Hans membacanya sebagai surat cinta. Kurasa dia merindukanku. Oh, atau mungkinkah ini ajakan kencan?

Maka bukankah bodoh jika Hans melewat kesempatan itu. Meski itu berarti dia harus terbang dari Surabaya ke Jakarta? Meski dia tidak bisa lama berada di sana karena besok ada pekerjaan penting harus di urusnya? Meski mungkin Eva tidak benar-benar mengharapkan kehadirannya? Tidak, tidak ada ruginya bagi Hans. Dia hanyalah pria yang sedang jatuh cinta.

Pamerannya baru di buka untuk umum besok. Hans yang tiba malam itu menjadi pengunjung VIP. Suara tek tak tek terdengar seperti musik di telinga Hans. Ia tahu siapa empunya yang menghasilkan suara itu dan sebuah sapaan hai, telah membayar lunas perjuangannya datang kemari. Debaran yang di rasakannya sekarang masih sama seperti dulu.

“Aku tidak menyangka kamu akan benar-benar datang kemari Hans. Terima kasih, aku senang. Oh, ya bagaimana perjalananmu?” ungkap Eva.

“Hans, kamu di sini?” Tanpa sadar Hans terus menatap Eva.

“Maaf, maksudku seperti biasa, macetnya Jakarta tidak berubah tetapi aku jadi aku belajar untuk tidur di mobil.” Eva tertawa renyah.

“Bagaimana kabarmu, Ev?”

“Baik, toh, aku tinggal menunggu putusan perceraian. Setelah itu, selesai sudah.”

“Bukan, maksudku kamu dan kehamilanmu.”

“Ah, yah, baru trisemester pertama, aku muntah, pusing dan memarahi banyak orang. That sucks. Tapi mau bagaimana lagi, sebenarnya aku tak sabar untuk menemuinya.” Eva mengelus perutnya.

“Dia pasti juga tak sabar menemui ibunya yang hebat.” Eva tersipu.

“Ayo, mumpung kami sudah selesai mengatur layout-nya, juga tinggal beberapa orang saja di sini jadi kita bisa keliling sekarang?” ajak Eva.

Lantas mereka berkeliling dari ruangan ke ruangan dari sudut ke sudut. Eva sebagai kurator menjelaskan sedikit tentang pamerannya karena dia ingin Hans melihatnya sampai akhir.

Yang di pamerkan di sana adalah adalah patung dengan wujud surealis dengan sentuhan realis. Patung-parung itu memiliki beragam pose. Dari tiduran, meringkuk sampai memeluk manusia. Sebagai seseorang tanpa latar belakang seni Hans mencoba memahami dari kacamatanya.

“Bagaimana Hans menurutmu?”

“Menurutku ini terasa ganjil,” Hans melanjutkan, “Aku merasa aneh melihat patung-patung ini, Ev. Sampai kita berjalan lebih jauh dan mengamati, patung-patung yang sebelumnya kuanggap aneh rasanya tidak lagi seaneh yang aku lihat sebelumnya. Maaf, aku tidak pandai memahaminya tapi kurasa karena aku sudah mulai menerima apa yang terlihat berbeda bagi kita.”

“Di bumi yang luas dan beragam makhluknya dari yang sudah ada atau bahkan akan ada, kita di hadapkan pertanyaan seperti: mampukah kita menerima sesuatu yang berbeda secara visual? Mampukah kita menangkap kasih, kelembutan dan cinta mereka? Apakah harus ada syarat kewajaran tertentu dalam rasa sayang? Akankah hidup berdampingan bisa di wujudkan bersama? Itulah tujuan dari pameran ini, untuk mengetuk hati nurani kita, Hans.”

Lihat selengkapnya