Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #15

Apakah Dia Itu?

 “Aku, sebagai pemimpin regu dan navigator, Hadir!’ pelik Bima.

“Narahubung!”

“Hadir!” teriak Emilia sembari mengangkat tangannya.

“Anak kecil pemberani.”

“HADIR!” Alan melompat melambungkan kedua tangannya.

“Logistik!”

“Hadir ...,” jawab Hans lesu.

Grup yang berisi 3 orang dewasa dan 1 anak kecil, memulai perjalanan mereka dengan menaiki kereta menuju Bandung yang kemudian akan di lanjutkan dengan naik mobil ke Garut. Walaupun ini perjalanan penting, mereka selalu saja memiliki cara untuk bersenang-senang. Karena perjalanan akan memakan banyak waktu di kereta mereka sudah menyiapkan permainan seperti kartu, monopoli dan ular tangga. Mereka juga membawa berbagai camilan. Semua itu agar Alan tidak merasa tertekan.

Alan sudah di beritahu bahwa perjalanan ini adalah agar dia tidak lagi di ganggu oleh Sosok Hitam dan ada kemungkinan kalau prosesnya sulit. Sebenarnya anak itu tidak sepenuhnya paham bagaimana prosesnya nanti. Alan tetap mau berangkat karena dia sendiri tidak nyaman dan takut dengan kehadiran Sosok Hitam.

Di sepanjang perjalanan anak itu sangat menikmatinya. Bila yang merasa tertekan seharusnya Alan, di sini justru Hans yang tertekan.

Betul ini adalah keputusan yang dibuatnya. Tetapi perjalanan ini telah memberinya beban mental berlebih. Hidupnya sudah cukup runyam dengan kehadiran 2 orang yang bisa melihat makhluk lelembut. Sekarang dia justru pergi ke tempat Orang Pintar yang pastinya bukan hanya bisa melihat lelembut saja, tetapi juga bisa menundukkan mereka. Maka di kepala Hans, Orang Pintar itu adalah pawang lelembut dan dengan kesadaran penuh dia telah melemparkan dirinya dalam sarang lelembut.

Hanya dengan membayangkannya saja, berhasil membuatnya 3 kali dia ke toilet, padahal baru di jam perjalanan. Pria yang malang.

Setelah perjalanan kereta yang melelahkan, mereka sebenarnya ingin berjalan-jalan dahulu karena penat duduk terlalu lama sayangnya kondisi Hans yang sudah lemas kering kerontang akibat terlalu sering ke toilet mereka urungkan. Mereka memutuskan untuk mengakhiri hari itu di hotel.

Demi kesehatan fisik dan mental Hans, dia tidur bersama Bima, sedangkan Alan bersama Emilia. Bima geleng-geleng melihat sahabat karibnya.

Esoknya kondisi Hans, masih belum berubah. Esoknya masih sama juga. Bima dan Emilia rapat dadakan.

“Ini tidak bisa dibiarkan, Em.” Tegas Bima.

“Aku setuju.”

“Kuakui aku lengah karena tidak memikirkan kemungkinan ini. Sewaktu Hans mengajakku, dia terlihat sangat serius, Em. Ternyata, Hans tetaplah Hans.”

“Pria penakut.”

“Tepat sekali.”

Bima dan Emilia terkekeh bersama.

“Kalau bukan karena Hans, aku tidak akan bertindak sejauh ini. Aku sudah mengenalnya saat kami masih kuliah. Untukku dia sudah seperti saudara. Dia selalu menanggung semuanya sendiri. Itu sebabnya ketika dia meminta bantuanku, aku lega sekali Em.”

“Betul sekali, dia memang seperti itu. Mas Hans, sempat menanyakan apakah aku tidak apa terlibat seperti ini. Aku justru senang bisa menolongnya walaupun tidak banyak yang bisa aku lakukan. Aku juga sangat bersyukur jika bukan karena Mas Hans, entah bagaimana nasibku sekarang. Alan sendiri, aku sangat menyukai karakter anak itu.”

Disisi lain ada Alan sedang menyelinap masuk ke kamar Hans. Hans sedang berbaring di kasur dengan tangannya menutup mata.

“Papa ...,” katanya pelan.

Lihat selengkapnya