Ada sebuah penelitian psikologi yang mengatakan, bahwa isi rumah dapat mencerminkan siapa pemiliknya. Ruang tamu yang di hiasi oleh ornamen meriah seperti, kelambu kerang, taplak meja hijau alpukat mengkilat, berbagai rupa suvenir hajatan di pajang dan kipas raksasa yang mirip kipas tukang sate di dinding belum lagi suara musik rock menambah kemeriahan suasana rumah mungil itu. Sedangkan pemiliknya adalah pria paruh baya dengan baju hitam macam dukun, rambutnya gondrong keabuan, barisan akik di jemari-jemarinya dan memakai topi layaknya rapper.
Beliau adalah Si Orang Pintar, bukan dukun maupun ustad. Unik, adalah kata yang paling tepat untuknya.
“Ampun, Em. Ketika menerima pesan darimu aku senang bukan kepalang. Bertahun-tahun tak berjumpa, kau sekarang sudah sebesar ini. Bagaimana kabar orang tuamu?” tukas Kang Danu semangat menyajikan berbagai camilan.
“Mama, Papa dan Adik sehat semua, Mang.” Kang Danu langsung melotot.
“Panggil aku, Kang, Em. Kalian semua juga panggil aku, Kang Danu.”
“Sudah kubilang, ingatlah umur.”
“Aku cuma sedikit lebih tua darimu, Em. Lihat yang benar.” Dengan percaya diri Kang Danu memberikan senyum paling memesona dengan gigi depannya yang sudah pada absen.
“Betul masih keren banget kok.” Kata Bima mengacungkan kedua jempolnya.
“Nah, itu baru namanya berjiwa rock. Siapa namamu, wahai anak muda?”
“Bima.”
“Jadi kau yang bernama Bima, maka kau adalah Hans dan anak kecil pemberani ini adalah Alan.”
“Aku Alan.” katanya sambil sibuk mengunyah kripik pisang. Sedangkan Hans hanya tersenyum canggung. Hans melirik Emilia, berbisik.
“Kau yakin dia bisa melakukannya, Em?”
“Aku tahu penampilannya memang meragukan, tetapi percayalah dia yang terbaik.”
“Baik Nak Hans, Emilia sudah bercerita sedikit mengenai apa yang terjadi. Tetapi, aku ingin memastikannya langsung darimu.”
“Semuanya, bermula saat Alan berumur tiga tahun. Saya tahu dia bisa melihat sesuatu yang kasat bagi saya. Saya tidak mempermasalahkan itu, sampai suatu hari sikap Alan menjadi aneh. Akhir-akhir ini dia mulai mengalami kerasukan, syukurlah kejadian mengerikan itu tidak masuk dalam ingatannya. Hanya saja tubuhnya yang terbebani. Dia memang bisa pulih dengan cepat untuk saat ini. Saya baru tahu kalau itu semua adalah ulah dari makhluk yang menempel pada Alan. Kami menyebutnya Sosok Hitam. Yang paling saya takutkan bagaimana bila kekuatan Sosok Hitam jauh lebih kuat dari sebelumnya, tentu tubuh anakku tidak akan mampu menahannya. Saya sendiri sebagai ayahnya tidak dapat berbuat banyak itu sebabnya saya kemari. Tolong lepaskan Sosok Hitam dari tubuh Alan.” Kata Hans sembari menunduk. Alan tidak paham apa yang di lakukan ayahnya, ikut menunduk.
“Itu bukan hal yang bisa aku lakukan.”
semuanya terperanjat.