Emilia dan Bima bisa bernapas lega, lantaran melihat Hans yang tidak lagi gamang. Pria itu perlahan berhasil mengendalikan persaannya. Dia tahu langkah apa yang harus di ambilnya.
“Baiklah, berdasarkan informasi dari Emilia, Sosok Hitam tidak mampu diajak berkomunikasi dan hanya menampakkan sedikit wajahnya ketika Alan dalam kondisi kerasukan. Ada kemungkinan dia tidak bisa bicara di karenakan kabut hitam yang menyelimutinya. Aku akan berusaha, membuka kabut hitam di bagian wajahnya, dengan begitu tidak akan lagi ada yang membelenggunya.”
“Baik, saya akan mempersiapkan Alan terlebih dahulu.”
“Semuanya mengangguk tanda setuju. Hans mencoba membujuk Alan, sedangkan yang lain membantu persiapan Kang Danu.
Alan dengan tampang melamun, sedih menatap mainannya. Alan yang seperti, menyayat hati Hans.
“Alan, kenapa kamu sedih?” alangkah hancurnya hati Hans saat tahu ternyata Alan menahan tangis.
“Di sini tidak ada teman-teman Alan. Bahkan teman Alan yang di rumah sudah berkurang. Alan takut, Pa.” Hans merengkuh tubuh kecil anaknya, mengelus punggung anaknya yang malang.
“Alan takut dengan Sosok Hitam?” Alan mengangguk.
“Sosok Hitam aneh, tidak mau diajak bicara. Aku tidak suka.”
“Setelah ini kita akan membuatnya bicara, kemudian melepaskannya. Prosesnya memang tidak mudah, tapi Papa yakin Alan pasti bisa melewatinya.”
“Nggak mau, Alan takut.”
“Alan ingat yang Alan katakan dengan Papa kalau takut? Kalau Alan takut, Papa ada untuk Alan. Papa tidak akan meninggalkan Alan sendiri.”
“Papa janji?”
“Iya, Papa janji.” Anak beranak itu saling mengaitkan jari kelingkingnya. Seseorang mengetuk pintu. Bima, dia memberi isyarat kalau persiapannya sudah selesai.
Mereka semua berkumpul di ruangan kosong, Alan dan Hans di suruh duduk di tengah ruangan. Yang lain mengelilingi mereka.
“Bagaimana, kamu sudah siap Alan?”
Alan menatap Papanya, Hans menggenggam kuat jemari Alan.
“Papa ada di sini.”
Kang Danu mulai merapalkan doa-doa. Awalnya tidak ada yang aneh, suasanya juga biasanya saja sampai 10 menit kemudian Hans mulai merasakan tubuh anaknya yang mulai agak panas. Alan menggeliat dalam rengkuhan Hans. Emilia terus memantau, Sosok Hitam sementara Bima memantau Hans dan Alan.
Sosok Hitam juga mulai bereaksi, kabutnya makin tebal dan mengeluarkan suara aneh. Bagian kepalanya mulai terlihat. Ruangan itu terasa semakin dingin dan lampunya mulai mati nyala.
Alan makin menggeliat tak karuan, dia terus berteriak.