Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #18

Ada Yang Jatuh Cinta Ada Yang Sakit Hati

Emilia dan Bima lari bersembunyi pekarangan rumah dekat kandang kambing Kang Danu. Macam orang penting Emilia seakan kambing-kambing itu akan membocorkan pembicaraan mereka.

“Bagaimana Mas Bima tahu?”

“Mbek ...,” suara mengembek, mengaburkan suara Emilia.

“Kamu bilang apa, Em?”

“Bagaimana Mas Bima tahu?”

“Mbek ....” begitu lagi.

“Maaf, Em. kambingnya berisik sekali.”

“Aku bilang, BAGAIMANA MAS TAHU?” pekiknya, menutup wajah dan berusaha mengatur napas.

Situasi ini terjadi karena Bima dengan segenap keberaniannya mencoba memastikan, apakah benar gadis yang di sukainya menyukai sahabatnya, Hans. Emilia yang sedang makan camilan mematung di tempat. Seluruh sarafnya tegang bak orangTanpa mengatakan sepatah kata, dia menarik Bima keluar agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.

“Soal itu, karena terlihat jelas, Em.”

“Terlihat jelas bagaimana?”

“Caramu menatap Hans, ekspresimu ketika membahas Hans dan bagaimana kamu sedih bila terjadi sesuatu padanya.”

“Jadi sejelas itu ya selama ini. Apakah Mas Hans tahu soal perasaanku?”

“Tidak, dia tidak tahu.”

“Syukurlah,” Emilia melangkah mondar-mandir, untuk menenangkan hatinya.

“Aku pernah cerita bagaimana aku bertemu Mas Hans kan? Kesan pertamaku dia adalah orang yang sangat baik, dia juga enak di pandang. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya, seperti tiap kosa kata yang dipakainya jika sedang bicara, caranya mendidik dan menyayangi Alan, bagaimana dia di hormati oleh orang di sekitarnya sampai bagaimana dia menerima kekurangan dirinya. Melihat sosok laki-laki seperti itu mudah saja membuatku menyukainya.”

“Namun, aku sadar sampai kapan pun tidak akan ada ruang untukku. Mendiang istrinya memang sudah tiada tapi aku bisa merasa cinta Mas Hans padanya. Aku sudah kalah telak dari awal, itu sebabnya aku ingin membereskan perasaanku, Mas. Aku tidak ingin membebani Mas Hans dengan keserakahanku.”

“Aku bisa mengerti. Kalian berdua adalah teman baikku dan sebagai teman maafkan aku karena harus mengatakan bahwa kamu sudah memilih pilihan yang tepat. Bukan karena kamu serakah, semua ini agar kamu terhindar sakit hati yang lebih dalam.”

“Mas Bima, berjanjilah, jangan katakan ini pada siapa pun.”

“Aku berjanji, Em.”

“Mbek ...,” Emilia ingin segera menyembelih kambing sialan itu.

Kang Danu memanggil mereka berdua untuk segera makan siang. Emilia masuk rumah terlebih dahulu. Bima sekonyong-konyong di hadang Kang Danu.

Lihat selengkapnya