Belakangan, hari demikian berlalu dalam kedamaian. Sosok Hitam bisu itu pada dasarnya adalah sosiopat, sulit diajak bicara. Seringkali Hans menemukan Emilia sedang pentas monolog. Sosok Hitam rupanya bagai gadis SMA labil. Ingat Emilia sewaktu ia bertanya apa gerangan yang menyakiti hatinya dan apakah ada yang bisa ia bantu. Seharusnya kau paham, begitu jawabnya.
Geram Emilia mendengarnya, namun melihat parasnya yang terkadang terlihat sendu menyentuh simpatinya. Kasihan, begitulah Alan melihatnya kini padahal dialah yang menerima kesialan bertubi-tubi karenanya.
Tidak hanya bicaranya yang sedikit, tingkahnya juga. Anteng sekali makhluk itu. Alan sendiri mulai terbiasa dengan kehadirannya. Tapi itu semua bukan jaminan aman.
Adapun Hans yang menakar berapa banyak waktu yang telah ia buang sia-sia. Bukan pada Alan, tetapi pada orang tuanya. Lama dia tidak berkunjung, tidak berkabar, tidak saling bicara apalagi mencoba memahami.
Bukan karena membenci mereka, hanya saja ada rasa tidak pantas dalam dirinya. Banyak hal tidak terlihat maupun terucap terbawa jauh oleh arus waktu tanpa sempat diuraikan.
Demikian Ibunya kini berjuang melawan penyakit dengan tubuhnya yang kian menua. Ibunya akan menjalani proses kemo yang ke- 4, begitulah isi pesan yang di kirim Ayahnya pagi tadi. Hans tak punya waktu, ia harus segera menemuinya.
“Apa sungguh tidak apa bila aku ikut Mas.” Emilia cemas mengganggu waktu Hans bersama keluarganya.
“Tidak apa, Em, justru aku yang berterima kasih. Aku membutuhkanmu untuk memantau Sosok Hitam. Maaf, aku berulang kali melibatkanmu dalam masalahku.”
Mereka pun berangkat ke Jakarta. Sesampainya di sana Hans bertemu dengan seseorang yang paling di hindarinya, yaitu: Ayahnya.
Emilia berdebar, bukan karena jatuh cinta melainkan karena ia sedang berada di tengah ketegangan keluarga bosnya. Entah apakah itu kata yang pantas untuk menggambarkan situasinya. Atmosfer di mobil yang ditumpanginya terasa amat berat. Emilia dapat melihat jarak antara Hans dan Ayahnya. Agak menyesal ia mengiyakan ajakan Hans.
“Bagaimana penerbanganmu, Hans?” Tanya Ayah Hans.
“Lancar.”
Sunyi, lebih sunyi di banding di tengah lautan.
“Ah, ternyata benar ketika orang bilang macetnya Jakarta tak ada tandingannya.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Emilia, efek menjadi nyamuk.
“Benar, padahal dulu tidak seperti ini. Makin hari makin banyak orang yang menggantungkan harapannya di sini. Membuatnya semakin padat. Walau pada akhirnya tidak mudah untuk bertahan di sini.”
“Benar, bisa di bayangkan semelelahkan apa bekerja di sini.”
“Ayah, bukannya sibuk?”
“Tidak, Ayah punya banyak waktu. Kamu sendiri apa tidak lelah, Hans? Alan saja langsung tidur begitu masuk mobil.”
“Aku justru tidak bisa tidur.”
“Begitu, ya.”
Hening lagi, begitu terus sampai mereka tiba di rumah orang tua Hans.
“Ya, ampun Ibu senang sekali kalian datang. Ah, Emilia, maaf ya merepotkanmu lagi.” Sambutan hangat Ibu Hans, berhasil mencairkan suasana tegang. Di tatapannya Ibu Hans, kini wanita paruh baya itu tidak lagi memiliki rambut. Hans, memeluknya erat di ikuti oleh Alan dan ayahnya menepi memberi ruang untuk mereka.
“Nenek, seperti Upin dan Ipin.” Ucap Alan polos, Hans mengelus dada, Emilia memberikan isyarat untuk diam.
“Ini namanya Ipin, kalau kau juga botak baru namanya Upin dan Ipin.”
Tibalah hari kemo Ibu Hans, mereka terbang menuju negara tetangga, Malaysia. Mau dimana pun, rumah sakit masih membawakan kenangan buruk pada Hans. Bau desinfektan yang menyeruak, ingar bingar suara orang mengobrol tak jelas, decit roda kasur yang di dorong, gemeletuk tongkat jalan, Isak tangis, suara pengumuman nomor antrean tak ada yang dia dengar. Hans mencoba menutup telinga, tangannya terus memegangi lehernya tanda gelisah. Hanya satu suara yang dapat di dengarnya. Suara pintu di buka.
Ayahnya keluar dari pintu setelah mendampingi Ibunya untuk di infus obat kemo.