Mereka telah pergi begitu jauh, menghalalkan segala cara guna mencari sebuah jawaban. Ada ketakutan, ada kegelisahan, ada penderitaan tengah merampas ketenangan yang mereka jaga.
Dan pencarian itu telah bermuara pada kepastian yang tak pernah ingin mereka terima.
“Aku sungguh tak paham.” Lirih Hans.
“Dari semuanya mengapa, harus keluarga kita sendiri?”
Ayah Hans terpekur. Dunianya runtuh sekali lagi. Dia kira telah putus sudah ikatan di antara mereka. Juga selesai mengubur coretan luka masa lalu.
Nyatanya sosok itu masih ada.
“Apa karena Alan, bukan anak kandung—ku?” Hans menertawai kesialan yang menimpanya.
Emilia bersembunyi membeku di balik pintu setelah mengantar Alan ke kamar. Ia baru tahu tentang ini.
“Apa perihal tidak sedarah ia tega melakukan ini semua? Pada seorang anak kecil?” ucap Hans frustasi.
“Kita harus mencari tahu.” Ayah mencoba tenang.
“Ayah, ini sudah keterlaluan. Aku tidak bisa membiarkannya berbuat lebih jauh.” Udara di ruangan itu semakin mencekik.
“Ayah tahu. Tapi kita tetap harus memastikannya.”
“Ini anakku, Ayah tidak berhak ....”
“Justru karena Ayah tidak berhak, Hans. Ayah juga tidak bisa diam saja. Kali ini biarkan Ayah ikut bertanggung jawab.”
“Ayah, aku tidak bisa menerima ini.”
“Ayah tidak bilang kalau kamu tidak boleh marah. Dan sekalipun keluarga, menyakiti tetap menyakiti itu bukan hal yang bisa di biarkan. Tetapi, apakah ada alasan tertentu di balik semua ini atau memang itulah yang diinginkannya? Coba dengarkan, setelah itu terserah padamu Hans.”
“Lantas, apa yang harus kita lakukan?”
“Pergi ke rumah kakek.”
Alan dengan dunia kasat matanya yang kini diliputi sepi di gantikan dengan kehadiran Sosok Hitam. Alan dulu bisa dengan mudah menemukan teman baru dan bermain dengan mereka. Beraneka rupa bentuknya, ada yang terlihat menyeramkan, kurang baju, acak adul, ada juga yang terlihat biasa saja. Sayangnya Papanya tak pernah ikut bermain dengan teman-temannya bahkan tak tahu kehadiran mereka. Padahal Papa senang saat dia bermain dengan teman di sekolah.
Kata temannya yang di lihat Alan namanya hantu. Hantu itu jahat, suka menakuti orang, begitu kata mereka. Aneh, pikir Alan. Sepertinya karena hantu tidak bisa di lihat semua orang. Untuk Alan hantu-hantu itu adalah teman yang menyenangkan. Apalagi kalau Papa pergi bekerja, dia tidak lagi kesepian.
Memang benar tidak semua hantu menyenangkan. Contohnya Sosok Hitam. Pendiam sekali dia, bentuknya pun aneh. Alan jadi takut dan tidak suka. Apalagi sejak kehadirannya, teman-teman lelembutnya entah kemana rimbanya. Tapi sekarang Sosok Hitam yang tampak wajahnya sering murung, kasihan ia memandangnya.
Coba kalau Papa dan yang lain bisa melihat hantu seperti dirinya. Mungkin mereka juga bisa berteman.
Dilihatnya anaknya yang suka bicara sendiri. Hans dari perspektifnya tidak mengerti bagaimana hubungan anaknya dengan dunia kecilnya. Sebuah dunia yang dia hindari sebagai penakut. Dunia yang jauh dari jangkauannya.
Hans hanya percaya dengan apa yang bisa di lihatnya, bukan yang kasat mata. Lama Hans merenung, meratapi pertanyaan-pertanyaan baru yang menyelinap dalam dirinya.
“Alan, apa Alan sedang bicara dengan Sosok Hitam?” tanya Hans sambil duduk di samping anaknya.
“Iya, tapi dia pendiam sekali. Dia lebih suka mendengarkan.”
“Alan, sudah tahu kalau Sosok Hitam sebenarnya adalah Kakeknya Papa, berarti Kakek buyutnya Alan?”
“Sudah, Kakek yang beritahu Alan.”
“Bukannya Alan takut dengan Sosok Hitam?”