Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #21

Berhati-Hatilah

Pak Surya telah tergantikan oleh Bima. Tim yang sebelumnya hening senyap mendadak berubah bak konvoi sepak bola. Si bujang lapuk memang memiliki mulut bagai toa dan segudang cerita. Cerita-cerita di kepalanya laksana bola panas yang harus segera di lemparnya.

Oleh karena itu kehadiran Bima sungguh telah di nantikan oleh Emilia dan Alan. Mereka tak kuasa di tempatkan dalam satu mobil dengan 2 kanebo kering.

“Om Bima sudah sehat?” tanya Alan.

“Tentu saja, lihat ini.” Bima berdiri menunjukkan otot yang tentunya kasat mata, karena hanya dia yang melihatnya.

“Kau sungguh anak yang baik Alan. Lihat Papamu, menanyakan kabarku saja tidak dan dia pergi tanpa aku, sungguh pria kejam.”

“Hei, kau sakit seperti itu dan bilang ingin istirahat. Perjalanan kali ini juga dadakan.” Hans membela diri.

“Papa, aku mau pup.” Semua kelabakan, Ayah Hans menawarkan diri untuk mengurus Alan.

“Kau diam disini, biar Ayah yang urus.” Pria dewasa berumur 35 tahun itu tunduk di bawah titah Ayahnya.

“Aku dengar kau pergi ke rumah orang tuamu untuk menemani Ibumu kemo. Aku sempat khawatir mendengarnya Hans, karena aku tahu bagaimana tersiksanya dirimu dengan rumah sakit. Lalu aneh, kenapa kau tak kunjung pulang, itu sebabnya aku mencoba menghubungi Emilia barangkali ada sesuatu terjadi. Maaf kalau aku selalu berusaha ikut campur.”

“Aku justru senang kau datang Bim. Aku saat ini memang lebih cepat mengambil keputusan di banding sebelumnya. Namun bukan berarti semua rasa kegelisahanku lenyap. Dengan keberadaan kamu dan yang lainnyalah berhasil membuatku menjadi lebih berani. Perjalanan ini sangat penting untuk aku dan Alan. Sekali lagi aku mohon bantuan kalian”

“Kapan pun Hans, kau selalu memiliki kami. Ah, Hans aku sendiri terkejut mendengar kalau Sosok Hitam adalah Kakekmu.”

“Aku juga Bim, semuanya semakin runyam. Aku sendiri tidak terlalu mengenal Kakekku. Dia meninggal saat aku masih kecil. Dugaanku dia memilih Alan mungkin karena kemampuannya dan fakta kalau—Ah, Em ada sesuatu yang belum aku ceritakan padamu.”

“Apa ini tentang Alan bukan anak kandung Mas? Maaf aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Mas Hans.”

“Benar, aku menikah dengan Eva ketika dia posisi hamil. Sebelum menjadi istriku dia sudah pernah menikah. Setelah 3 tahun menikah, suaminya selingkuh dan Eva meminta cerai. Di saat itu dia sendiri tidak sadar sedang posisi mengandung.”

“Ah, jadi begitu ceritanya.”

“Iya, Em. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Dan mungkin inilah yang menyebabkan Sosok Hitam menargetkan Alan.”

“Aku berharap semua ini benar-benar bisa berakhir ketika kita tiba di rumah Kakekmu, Hans.” Tambah Bima.

Mereka segera menuju ke rumah Kakek Hans. Rumah itu berada di daerah pegunungan. Emilia dan Bima yang baru pertama kali melihatnya paham betul kata rumah sangatlah tidak pantas untuk menyebutkan bangunan itu. Karena bangunan itu adalah sebuah Mansion.

Ia berdiri dengan gagah, di lapisi cat putih menatap mereka tak acuh. Baik bangunan dan tamannya terawat dengan baik dan memberi kesan hanya yang memiliki hak. Hawa dingin pegunungan berdesir menyentuh kulit mereka.

Bahkan bangunan di sekitarnya merasa malu, enggan untuk bersanding. Itu sebabnya jalanan terasa lenggang.

“Om, Hans pernah bercerita betapa kesepian hidupnya. Aku tak kuasa melihatnya seperti itu sebagai sahabat karib yang sudah seperti saudara, saya sangat bersedia di adopsi oleh Om.” Celetuk Bima.

“Saya juga , Om. Tidak apa meski tidak di adopsi namun saya pekerja keras, saya berjanji akan selalu mengabdi untuk keluarga Om.” Ganti Emilia ikut menawarkan dirinya.

“Haduh, cepat menyingkir dari Ayahku sekarang.”

“Oh, Hans saudaraku yang malang, bila ada sesuatu yang kau inginkan katakan saja padaku. Kita kan, saudara jangan sungkan begitu, sakit hati aku melihatmu begini.” Sogok Bima.

“Benar Mas Hans, Mas tidak perlu repot-repot serahkan saja semuanya pada kami.” Emilia tak mau kalah.

Di sisi lain Ayah Hans terenyuh, lega anaknya mendapatkan teman-teman yang peduli.

“Syukurlah, Ayahmu punya teman-teman yang baik ya, Alan.”

Lihat selengkapnya