Sosok Hitam untuk pertama kalinya memperlihatkan dirinya dengan utuh, menatap tak acuh pada mereka. Kabut yang biasanya menyelimutinya menyebar ke seluruh ruangan.
“Bapak,”Ayah Hans tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bapaknya yang telah tiada berada di depannya. Ia tergagap dengan bulir keringat jatuh dari keningnya.
“Kakek apa maksud semua ini?” lirih Hans. Sosok Hitam berjalan mendekat menginjak lukisan foto keluarga yang terjatuh di lantai tanpa peduli.
Mereka segera berbalik mencoba kabur, namun pintunya terkunci, lampu berkedip tak karuan dan kabut hitam menyeruak menyerbu mereka.
Sedetik kemudian Sosok Hitam telah berada di depan Hans.
“Lepaskan.” Tubuh Hans terpental ke tembok. Alan terhisap ke dalam pusaran kabut hitam.
“HANS! MAS HANS BANGUN!” Hans perlahan membuka matanya yang berkunang-kunang. Emilia membantunya berdiri. Sedangkan Ayah Hans dan Bima menerjang kabut hitam yang makin membesar. Kabut itu kuat mencoba mendorong mereka sejauh mungkin.
Ayah Hans juga ikut terpental tubuhnya menghantam pintu cermin. Pecahan kaca menyayat sekujur tubuhnya.
“AYAH!” ketika Hans mencoba mendekatinya. Ayahnya berteriak.
“JANGAN HIRAUKAN AYAH. CEPAT SELAMATKAN ALAN.” Kata Ayahnya dengan darah menetes dari pelipisnya.
Hans berjalan, namun terjatuh lagi hampir terhempas oleh kuatnya terpaan kabut hitam. Ia melangkah mendekat sampai tersungkur lagi. Tubuhnya sempat terhempas tapi dia tidak menyerah. Dia merangkak lantas berdiri, begitu terus hingga dia berhasil mendekat
Hans berusaha mencari anaknya dalam gumpalan kabut hitam.
“KEMBALIKAN ALAN!!!” Hans takut, sangat takut. Dia takut kehilangan anaknya. Hans bisa mendengar suara ayahnya yang ikut menyusul untuk menarik Alan, Emilia juga begitu. Mereka saling berteriak memanggil Alan. Makin mereka masuk ke bagian inti, suara mereka makin tenggelam. Dan seketika hening.
Hans terlempar dalam ruang hampa gelap dengan lantai yang di genangi air. Dia tidak bisa melihat dan mendengar apa pun. Hanya suara deru napasnya yang memburu memenuhi ruangan.
“Alan! Kamu dimana?”
“Ayah, Bima, Em, apa kalian baik-baik saja?”
“Ah, ini dimana? Siapa pun tolong jawab aku!” Hans terjatuh, kakinya lemas, dia meremas kepalanya. Ketika ia membuka matanya, di sana ada pria yang terduduk lemas di kursi kayu dengan akar yang mengikat tubuhnya.
Sebuah kolase muncul menampilkan seorang pemuda sedang dalam perkelahian. Dia sendirian melawan 5 orang sekaligus. Meski babak belur dia menolak tumbang. Lalu seseorang mengeluarkan pisau dan menyerangnya. Pisau itu melukai dahinya, darah menutup separuh wajahnya. Dia tak gentar, terus menerjang lawan tanpa ampun dan berhasil menumbangkan mereka semua. Pemuda itu adalah Kakek Hans.
Kolase-kolase lain ikut muncul seperti ketika ia mulai menjadi anak buah saudagar, kertika ia terlibat dalam berbagai perkelahian, ketika ia menghitung angka-angka secara akurat, ketika ia pertama kali bertemu neneknya, ketika dia membentak keluarganya, ketika dia mulai hidup sendiri dalam rumah raksasanya, ketika ia pertama kali menggendong Hans, ketika ia selalu menatap lukisan foto keluarga sampai akhir hayatnya dalam kesendirian.
Hans mendekati Kakeknya, pria itu terkulai lemas dengan pandangan kosong.
“Aku pria yang buruk ya, Hans?” ujar Kakeknya tanpa melihat Hans.
“Iya, aku pun juga begitu.”
“Aku memiliki segalanya, tapi tidak dengan keluargaku. Itu sebabnya mereka membuangku.”