Rumah Hans riuh sekali, Kang Danu berkunjung ke rumahnya. Semua menyambutnya dengan senang hati kecuali Alan, agaknya dia masih tak terima dengan kejadian saat di rumah Kang Danu. Bonaparte tak bergeming, dari tatapannya dia seakan berkata orang udik mana lagi ini.
“Kabut itu adalah dendam. Karena dia meninggal dengan terus membawa perasaan itu, sampai rasa dendam melumatnya itu sebabnya tubuhnya di selumuti oleh kabut hitam. Dan akar yang kalian lihat adalah keterikatan yang ia tanamkan pada Alan. Padahal keterikatan itu sendiri juga menyiksanya,” jelas Kang Danu.
“Jadi begitu ya.”
“Kau telah berusaha dengan baik. Hans apakah kau ingin aku menutup mata batin Alan? Agar kau bisa tenang.”
“Tidak perlu, Kang.”
“Wah, apa kau sudah bukan penakut lagi Hans?”
“Tentu tidak, aku masih penakut yang sama seperti dulu. Dari yang kulihat Alan tidak pernah benar-benar merasa terganggu oleh para lelembut itu. Jadi biarkan saja seperti ini.”
“Kau sungguh ayah yang baik Hans.”
Kang Danu tak bisa terlalu lama di sana, karena tujuannya adalah untuk menonton konser band rock kesukaannya di Surabaya. Dia juga harus segera kembali ke Garut karena murid-muridnya tak mau belajar mengaji kalau bukan dirinya.
Mungkin karena sudah tidak ada lagi yang membebani pikirannya. Kini pria itu sering di omeli Bu Minah karena bangun kesiangan. Dia sering berangkat di jam mepet. Alan juga menjadi lebih ceria karena katanya teman-temannya sudah kembali. Masalah pencernaan Hans belum berakhir kini dia lebih sering ke toilet.
“Kenapa tiap kali Alan kerasukan Mas hans tidak sakit perut padahal jelas-jelas ada hantu di sana?” tanya Emilia
Sepertinya semua itu di karenakan Hans fokus pada Alan, bukan pada hantunya. Rasa sayangnya mampu menekan rasa takutnya. Dan tak terasa kini Alan akan masuk SD. Hans yang mengantar Alan untuk pendaftaran segera menjadi pusat perhatian ibu-ibu yang berada di sana. Emilia yang ikut mengantar seakan bagaikan debu di samping berlian.
Awalnya dia sempat dikira sebagai istri Hans dan setelah dia memperkenalkan diri sebagai baby sitter Alan, mereka tampak lega. Tidak salah sih, toh Emilia sendiri memang pernah menaksir Hans. Tapi kini tidak lagi, sudah ada pria lain yang suka mampir dalam pikirannya belakangan.
Melihat Hans dan Alan yang bahagia sungguh membuat hatinya lega. Dia tahu sendiri bagaimana menderitanya Alan dan Hans karena Sosok Hitam. Meski mereka sempat berkonflik, menghadapi berbagai rintangan, keraguan, mereka juga berbagi tawa dan kebahagiaan yang sama.
Dengan begitu, mereka sudah tidak lagi membutuhkannya. Emilia telah menuntaskan tugasnya sebagai penjaga Alan. Dia akan segera berpisah dan keluarga kecil yang sangat ia sayangi. Mengingat itu dadanya terasa sesak.
Sebelum pulang mereka mampir ke mall. Emilia dan Alan sedang mampir ke restoran untuk makan sedangkan Hans entah kemana.
“Ah, apakah aku terlalu lama?”
“Tenang makanannya baru saja di antar. Mas tadi kemana?”