POV NADIRA
Jakarta—tahun 2007—selalu berisik, tapi entah sejak kapan, aku justru merasa sunyi di tengahnya.
Aku mencintai Dodi.
Kalau harus jujur, mungkin itu masalahnya.
Karena tidak ada yang lebih membingungkan daripada menyadari bahwa orang yang paling kamu cintai juga orang yang perlahan membuatmu tidak mengenali dirimu sendiri.
Di depanku, layar ponsel masih menyala.
Nama Dodi terpampang di sana.
Sudah hampir satu jam.
Satu jam aku membaca pesan terakhirnya berulang-ulang, seolah susunan kata yang sama akan menghasilkan jawaban yang berbeda.
Aku mengusap wajah pelan.
Di luar jendela kamar kos, Jakarta sedang hujan.
Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah. Kota ini tetap berjalan seperti biasa, seakan tidak ada apa pun yang sedang runtuh di dalam dadaku.
Aku menarik napas panjang.
Lalu membuka galeri ponsel.
Foto pertama.
Aku dan Dodi di dekat kampus.
Aku masih memakai jaket himpunan.