Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #4

Bab 2 : Awal Pertemuan

POV NADIRA

Sore di Depan Sekretariat

Sore itu, lorong gedung terasa lebih sepi. Aku berdiri bersama beberapa mahasiswa baru lain di depan pintu ruang sekretariat koran kampus. Pintunya tertutup rapat.

Kami saling pandang.

"Ini bener di sini?" tanya seseorang.

"Iya," jawab yang lain. "Tapi kok dikunci."

Kami menunggu beberapa menit. Tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.

Tak lama, beberapa mahasiswa senior muncul dari ujung lorong.

"Loh?" salah satu dari mereka berhenti. "Kok pada di luar?"

"Sektretariatnya dikunci," jawab seorang mahasiswa baru.

Senior itu menghela napas.

"Waduh. Pasti kuncinya masih di Agus."

Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon.

"Gus, di mana lo? Anak-anak baru udah nunggu nih."

Sambil menunggu, ia menoleh ke kami.

"Ya udah, duduk dulu aja. Lesehan gapapa."

Kami duduk di depan pintu, membentuk setengah lingkaran. Senior itu duduk di depan kami.

"Kenalin," katanya, "Gue Aris. Ketua koran kampus tahun ini."

Ia menunjuk satu per satu temannya.

"Ini redaktur. Ini divisi liputan. Ini layouter."

Obrolan mengalir santai. Tidak kaku. Aris pandai mencairkan suasana.

Di tengah-tengah itu, Aris menoleh ke arah lorong dan berseru,

"Dodi!"

Seseorang menghampiri. Aku mendongak sekilas. Tinggi. Posturnya tegap. Rambutnya rapi. Kesan pertama : oke, senior.

"Kenalin," kata Aris, "ini Dodi. Senior kita. Dulu juga anak koran kampus."

Dodi mengangguk ringan.

"Halo."

Aris menepuk lantai.

"Duduk sini, Dod."

Dodi ikut duduk lesehan. Dan sejak itu, suasana berubah.

***

Dodi yang Ramai

"Eh ngomong-ngomong," kata Dodi sambil menoleh ke Aris, "isu pemotongan anggaran UKM itu jadi gak sih?"

Aris mendengus.

"Masih wacana. Tapi kayaknya berat."

"Ya makanya," Dodi langsung nyambung, "kalau media mahasiswa diem aja, nanti kebijakan jalan terus. Padahal yang kena dampaknya kita juga."

Beberapa mahasiswa baru mengangguk-angguk, setengah paham.

Dodi lanjut, suaranya lantang tapi santai.

"Dulu pas gue masih aktif, kita pernah nulis soal kebijakan rektorat. Lumayan tuh, sempet bikin rapat dadakan."

"Serius?" tanya seseorang.

"Iya," jawab Dodi cepat. "Makanya koran kampus itu bukan sekadar nulis. Kita belajar sikap."

Lihat selengkapnya