Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #5

Bab 3 : Dia Masih Ingat Namaku

POV NADIRA

Pagi-pagi di kampus selalu ramai, tapi langkahku menyusuri koridor terasa ringan. Aku berjalan sambil membuka catatan, lalu tanpa sengaja menoleh ke ujung lorong.

Dodi.

Ia berjalan berdampingan dengan seorang dosen. Posturnya tegak, langkahnya tenang. Ia mendengarkan, mengangguk sopan, sesekali menyela dengan kalimat singkat. Wajahnya serius, berwibawa. Bukan Dodi yang kemarin duduk lesehan sambil melempar jokes.

Aku melambat.

Ia tidak melihatku sama sekali.

Aku melanjutkan langkah.

 

***

Keesokan harinya, di perpustakaan, aku kembali melihatnya. Dodi duduk sendiri di salah satu meja panjang. Buku terbuka. Pensil di tangan. Wajahnya fokus, nyaris tidak bergerak. Dunia di sekelilingnya seolah mengecil menjadi halaman-halaman di depannya.

Aku lewat di antara rak.

Ia tidak menoleh.

Aku tidak berhenti.

 

***

Hari lain, di pinggir lapangan kampus, Dodi duduk di meja batu bersama beberapa mahasiswa. Mereka lebih muda darinya—junior-junior yang tampak mendengarkan.

Dodi berbicara dengan gestur tangan yang terukur, sesekali tersenyum, sesekali serius. Percakapan mereka terlihat hidup, tapi tertata.

Aku melintas.

Sekilas melihat.

Lalu berlalu.

Ia tetap tidak melihatku.

Dan kali ini, aku juga tidak menunggu untuk diperhatikan.

 

***

Dua bulan kemudian

Gedung besar itu penuh orang. Spanduk seminar terpasang rapi.

Aku berdiri di balik meja penerima tamu, mengenakan kemeja rapi, rok selutut, sepatu formal. Rambutku kuikat sederhana. Tanganku sibuk memeriksa daftar hadir.

Aku menjadi salah satu panitia seminar yang diadakan oleh koran kampus—Unit Kegiatan Mahasiswa yang aku ikuti di kampus. Seminarnya diadakan di Bandung.

Satu per satu peserta datang.

Lalu dari pintu masuk, aku melihat sosok yang familiar.

Dodi masuk dengan kaus sederhana. Celana santai. Sandal bertali—yang lebih cocok dipakai naik gunung daripada ke seminar. Ia tampak santai, seolah tidak ada aturan berpakaian yang perlu dipatuhi.

Mataku tertahan.

Eh… itu Dodi

Aku ragu.

Menyapa nggak ya?

Aku menahan diri. Ah, udahlah. Paling juga dia udah lupa sama aku.

Dodi tidak menuju mejaku. Ia mendaftar di meja lain, lalu masuk ke ruang seminar.

Aku kembali menunduk ke daftar hadir.

 

***

Acara dimulai. Aku masuk belakangan dan duduk di bangku paling belakang. Materi seminar ada di tanganku. Kubuka, kubaca, kuberi tanda. Aku mencoba fokus.

Langkah kaki lewat di depanku.

“Nadira!”

Aku menoleh.

Dodi berdiri di lorong, menatapku, tersenyum lebar—senyum yang sama seperti sore itu di depan sekretariat. Tanpa berhenti, ia melangkah keluar ruangan, sepertinya menuju toilet.

Aku buru-buru membalas senyumnya. Terlambat sedikit. Tapi cukup.

Jantungku berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Aku kembali membuka materi. Tapi pikiranku tidak lagi di halaman yang sama.

Dia masih ingat namaku, pikirku.

Padahal sejak pertemuan pertama itu, kami tidak pernah bicara lagi. Tidak saling menyapa. Tidak saling menoleh.

Pelan-pelan, rasa itu mengusik—antara kagum dan tidak percaya.

Dodi masuk kembali ke ruang seminar dan duduk di deretan tengah. Ia membuka catatan, menunduk, kembali menjadi dirinya yang tenang.

Dari bangku paling belakang, aku memperhatikannya diam-diam.

Untuk pertama kalinya,

aku tidak merasa terganggu oleh suaranya.

Tidak merasa sebel oleh kehadirannya.

Aku tersenyum sendiri—kecil, nyaris tak terasa—

memperhatikan Dodi dari jauh.

Dan entah sejak kapan,

Lihat selengkapnya