Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #6

Bab 4 : Inisiatif

POV NADIRA

Pagi Setelah Kopi Tumpah

Keesokan paginya kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Mahasiswa lalu-lalang, sebagian masih menguap, sebagian sudah sibuk dengan ponsel dan obrolan kecil.

Aku datang bareng Nia. Kami berjalan santai menuju pekarangan kampus.

Saat hampir melewati gerbang, entah kenapa aku menoleh ke depan.

Dodi.

Ia baru saja sampai. Tas disampirkan di satu bahu, langkahnya santai. Begitu matanya menangkapku, ia langsung tersenyum—lalu mengangkat tangan, melambai.

Aku berhenti refleks.

Aku mengernyit, menoleh ke belakang sebentar, memastikan tidak ada orang lain tepat di belakangku yang mungkin jadi tujuan lambaian itu.

Tidak ada.

Aku menoleh lagi ke depan.

Dodi masih di sana. Kali ini ia tertawa kecil, lalu menunjuk-nunjuk ke arahku, seperti ingin bilang: iya, kamu.

Aku akhirnya tersenyum—agak malu, tapi tidak menahan. Aku mengangkat tangan dan melambai balik.

Dodi mengangguk kecil, senyumnya masih tinggal, lalu melangkah masuk ke area kampus dari arah berlawanan.

Aku kembali berjalan.

“Siapa tuh?” tanya Nia sambil melirik ke arah yang sama.

Aku berusaha terdengar biasa saja.

“Dodi,” jawabku. “Senior yang berisik yang gue pernah ceritain.”

Nia langsung menyenggol lenganku pakai sikut.

“Ganteng euy.”

Aku tidak menjawab.

Aku cuma tersenyum.

 ***

 

Nomor Telpon Dodi

Setelah pagi yang aneh—pagi ketika Dodi melambaikan tangan dan membuat langkah kakiku terasa lebih ringan—aku masuk ke ruang sekretariat koran kampus.

Lihat selengkapnya