Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #7

Bab 5 : Pendekatan

POV NADIRA

Hegemoni

Aku baru keluar dari gedung fakultas ketika Dodi memanggil namaku dari arah koridor.

"Nadira."

Aku menoleh. Dodi berdiri sambil menenteng satu buku tebal. Sampulnya sudah agak lecek—jelas bukan buku baru.

"Ini," katanya sambil menyerahkan buku itu. "Yang kemarin kamu pinjem."

"Oh iya," kataku cepat. "Makasih ya, Dod."

Dodi tersenyum ringan.

"Buat mata kuliah apa?"

"Pengantar Komunikasi Politik."

"Dosen siapa?"

"Pak Aron."

"Oh," Dodi langsung bereaksi. "Pak Aron itu..."

Ia mulai bicara panjang lebar. Tentang gaya mengajarnya, tentang cara beliau memberi nilai, tentang kebiasaannya melempar pertanyaan tiba-tiba di kelas. Tangannya sesekali bergerak, suaranya hidup, seperti sedang berada di ruang diskusi.

Aku mengangguk-angguk.

"Iya, iya... katanya beliau sering bahas hegomoni politik media."

Dodi berhenti sebentar. Melirikku.

"Hegomoni?"

"Iya," aku mengangguk mantap. "Yang... hegomoni—eh—"

Dodi tertawa kecil. Bukan mengejek. Lebih seperti menahan senyum.

"Hegemoni," katanya pelan, membenarkan. "Bukan hegomoni."

Pipiku langsung panas.

"Oh," kataku cepat. "Iya itu maksudku."

Dodi masih tersenyum.

"Tenang. Aku juga dulu sering salah nyebut."

Aku tertunduk sebentar, lalu tertawa kecil menutupi rasa malu.

"Ya ampun."

Dodi menatapku sebentar, lalu berkata santai,

"Kalau nanti bingung, tanya aja. Pak Aron suka muter-muter kalau jelasin."

Aku mengangguk.

"Iya. Makasih ya."

Kami berdiri sebentar, agak canggung. Lalu Dodi melangkah mundur sedikit.

"Ya udah," katanya. "Aku ke perpustakaan dulu."

"Oh. Iya."

Ia pergi, langkahnya santai seperti biasa.

Aku memeluk buku itu ke dada sedikit lebih erat dari seharusnya.

Dan entah kenapa,

satu istilah yang tadi salah kusebut

terus terngiang di kepalaku—

bersama cara Dodi membenarkannya

dengan suara pelan

dan tawa yang tidak membuatku merasa bodoh.

***

Telepon Pertama

Dua minggu kemudian, aku mengembalikan buku Dodi. Tidak ada yang istimewa. Aku berpapasan dengannya di koridor kampus. Aku serahkan buku yang kupinjam, bilang terima kasih. Dengan sedikit terburu-buru aku meninggalkannya karena aku hampir terlambat masuk kelas. Aku bahkan tidak melihat ekspresi Dodi saat itu.

Sore harinya. Aku sudah duduk di ujung kasur.

Ponsel di tangan.

Nomor Dodi sudah terbuka.

Aku menatap layar beberapa detik.

Menarik napas.

Lalu... berdiri lagi.

Aku ke kamar mandi.

Sikat gigi.

Padahal aku baru sikat gigi sore tadi.

Padahal Dodi juga gak bakal lihat aku.

Tapi entah kenapa, rasanya perlu.

Aku kembali ke kamar. Duduk lagi.

Menarik napas panjang.

Ya ampun, ini cuma nelpon.

Jariku akhirnya menekan tombol panggil.

Tut...

Nada sambung.

Jantungku langsung kayak mau loncat.

"Halooo...," suara Dodi terdengar dari ujung sana.

Aku reflek duduk lebih tegak.

"Iya... Dod. Ini aku."

"Nadira?"

"Iya."

"Hm?" nadanya santai. "Kenapa?"

Aku menelan ludah.

"Gak... gak kenapa-kenapa sih. Cuma... mau nelpon aja."

Hening sebentar.

Lalu Dodi ketawa kecil.

"Kamu gak sayang pulsa?"

Aku refleks menjawab terlalu cepat.

"Eh—sayang dong! Maksudku... iya sih... tapi gak papa."

Dodi tertawa lagi.

"Oke, oke."

Aku bisa membayangkan senyumnya. Dan itu bikin aku makin gugup.

"Lagi ngapain?" tanyanya.

"Di kosan. Abis belajar dikit."

"Oh iya," katanya. "Kamu lagi baca apa sekarang?"

Aku mikir sebentar.

"Novel."

"Novel apa?"

"Yang... populer-populer aja."

Dodi diam sebentar. Lalu nadanya jadi lebih santai.

"Kamu udah pernah baca buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer belum?"

Aku menggeleng meski dia gak lihat.

"Belum sih. Aku tau namanya, tapi belum pernah baca."

"Bagus-bagus," katanya. "Berat dikit, tapi dalem."

Aku mengangguk lagi, refleks.

"Iya... nanti aku coba deh. Aku pengen juga baca karya sastra."

"Pelan-pelan aja," katanya. "Bacanya juga dinikmatin."

"Iya."

Kami diam sebentar.

Aneh, diamnya gak canggung. Tapi aku sadar napasku masih agak cepat.

"Dod...," kataku pelan.

"Hm?"

"Makasih ya... bukunya."

"Sama-sama."

Nada suaranya tetap biasa. Tapi buatku... gak biasa sama sekali.

"Ya udah," katanya kemudian. "Aku gak ganggu ya."

"Iya," kataku cepat. "Eh—maksudnya... bukan ganggu sih..."

Dodi tertawa.

"Aku ngerti."

Kami menutup telepon.

Layar ponsel gelap.

Aku menjatuhkan diri ke kasur.

Lalu... guling-guling.

Sumpah.

Menutup wajah pakai bantal.

Terus buka lagi.

Dadaku masih ribut.

Aku menatap langit-langit kamar sambil senyum sendiri.

Ya ampun... kira-kira Dodi mikir apa ya tentang aku?

Ponselku berbunyi lagi. Ada pesan masuk. Dari Dodi.

Nad, kalau lagi iseng bisa main scrabble, lumayan bisa ngelancarin Bahasa Inggris. Hehehe... Atau kalau mau baca Pramoedya Ananta Toer, mulai aja dari tetralogi Pulau Buru-nya. Yang pertama judulnya: Bumi Manusia. 😊

Aku tersenyum membaca pesan dari Dodi. Aku membalas singkat.

Ok. Thx. 😊

Dan malam itu,

aku tidur dengan pikiran yang capek,

tapi hati yang entah kenapa... ringan.

***

Curhat

Hari Minggu. Aku dan Nia di kos saja. Aku duduk di lantai kamar kosan sambil bersandar ke ranjang. Nia lagi rebahan, satu kaki dinaikkan ke tembok, sibuk main ponsel.

"Nia," kataku tiba-tiba.

"Hm?" jawabnya tanpa menoleh.

"Gue kayaknya... suka sama Dodi."

Hening. Dua detik.

Lalu Nia langsung bangun setengah duduk.

"HAH?"

Ia menatapku, lalu... ngakak. Beneran ngakak.

"YA AMPUN," katanya sambil tepuk-tepuk kasur.

"Yang dulu lo sebelin setengah mati itu kan??"

Aku meringis.

"Iya..."

Nia makin ngakak.

"Makanya! Kalo sebel jangan kebangetan. Tuh kan, kualat. Sekarang malah jatuh cinta."

"Hahaha," dia ketawa sampai hampir jatuh ke lantai.

"Gue bilang juga apa."

Aku melempar bantal ke arahnya.

"YAH ELO LAGI! Gak ngebantu sama sekali!"

Nia nangkap bantal itu sambil masih ketawa.

"Ya maap," katanya sambil menyeringai.

"Tapi jujur ya... dari awal gue udah curiga."

"Curiga apaan?"

"Lo tuh kalo sebel sama cowok, biasanya biasa aja. Ini sampe lo ceritain berkali-kali. Itu mah tanda-tanda."

Aku terdiam sebentar.

"Apaan sih..."

Nia senyum lebar.

"Selamat ya. Akhirnya lo ngerasain juga suka sama orang dan lo berani ngaku."

Aku mendesah, lalu senyum kecil.

"Berani ngaku doang. Belum tentu berani ngapa-ngapain."

Nia ketawa lagi.

"Tenang. Pelan-pelan. Tapi sumpah ya... ini lucu banget."

Aku menutup wajah pakai bantal.

"Berisik."

Di balik bantal itu, aku senyum sendiri.


Karena untuk pertama kalinya,

aku tidak cuma menyimpan rasa di kepala—

aku mengatakannya dengan suara.


***

Bioskop Pertama Kali

Seminggu kemudian. Aku sebenarnya tidak berencana ke bioskop hari itu.

Aku cuma ikut.

Aris yang ngajak. Agus ikut. Beberapa anak koran kampus juga. Dodi ada di situ. Dan entah kenapa, itu cukup untuk membuatku bilang iya tanpa berpikir panjang. Kami pun pergi sama-sama naik mobil Aris ke Bandung.

Sesampainya di BIP Mall, kami berdiri mengantre tiket. Lampu-lampu bioskop terang, bau popcorn bercampur pendingin ruangan. Aku berdiri agak di belakang, pura-pura sibuk dengan ponsel.

Dodi berdiri tidak jauh dariku. Tangannya di saku celana. Santai. Seolah ini hanya hari biasa.

"Kamu mau nonton yang mana?" tanya Dodi ke semua orang.

Diskusi kecil terjadi. Aku tidak ikut bicara. Aku cuma mendengarkan.

Akhirnya pilihan jatuh ke satu film.

Di dalam studio, kami duduk terpisah—tidak sengaja, tapi juga tidak dihindari. Dodi duduk satu kursi di sampingku. Ada satu orang di antara kami.

Lampu padam.

Gelap.

Suara pembuka film muncul.

Dan tiba-tiba aku sangat sadar akan hal-hal kecil:

jarak kursi suara napas gerakan Dodi yang menyilangkan kaki

Aku mencoba fokus ke layar.

Tapi pikiranku terlalu ramai.

Beberapa menit kemudian, orang di antara kami pindah ke kursi kosong lain. Tanpa kata. Tanpa drama.

Dodi dan aku kini duduk bersebelahan.

Aku menelan ludah.

Tanganku kaku di pangkuan. Aku tidak tahu harus menaruhnya di mana. Setiap kali aku bergerak sedikit, aku takut Dodi menyadarinya.

Di satu adegan lucu, Dodi tertawa kecil. Refleks aku ikut tertawa.

Tawa kami tidak sinkron. Terlambat setengah detik.

Aku menoleh sebentar. Dodi juga menoleh.

Mata kami bertemu sepersekian detik—lalu sama-sama kembali ke layar.

Aku tidak tahu filmnya tentang apa.

Yang aku tahu hanya:

bahu Dodi ada di sana lengannya kadang menyentuh sandaran dan aku ingin waktu berjalan lebih lambat

Saat lampu menyala, aku menarik napas panjang—baru sadar sejak tadi aku menahannya.

"Kata kamu gimana filmnya?" tanya Dodi pelan.

"Filmnya... bagus," jawabku cepat.

Dodi tersenyum.

"Menurut aku juga."

Kami keluar studio bersama yang lain.

Di luar, obrolan ramai lagi. Tapi aku tetap sedikit tertinggal—di kepalaku, aku masih duduk di kursi gelap itu, bersama Dodi, dalam jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan.

Dan malam itu, aku pulang dengan satu kesadaran kecil:


aku tidak lagi ingin Dodi sekadar ada di sekitarku.

Aku ingin tahu rasanya duduk di sebelahnya lagi.


***

POV DODI

Dodi sebenarnya niat nonton saja malam itu.

Tidak ada ekspektasi. Tidak ada rencana.

Sampai ia duduk di dalam studio.

Lampu padam. Film mulai. Dodi melirik ke kanan—Nadira. Duduk tegak. Terlalu tegak untuk orang yang santai. Tangannya di pangkuan, jari-jarinya saling menekan.

Dia tegang, pikir Dodi.

Ia tidak menoleh lama. Tidak ingin ketahuan memperhatikan. Tapi beberapa menit kemudian, Dodi menangkap hal-hal kecil:

Nadira menarik napas lebih sering bahunya sedikit kaku ia tertawa... terlambat

Satu kursi kosong tercipta di antara mereka. Tanpa disepakati, jarak itu menghilang.

Dodi bisa merasakan perubahan napas Nadira. Lebih pelan. Lebih hati-hati.

Ia menahan diri untuk tidak bergerak terlalu banyak. Bahkan saat ingin menyilangkan kaki, ia mengurungkan niat.

Lihat selengkapnya