Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #8

Bab 6 : Hari Pernyataan

POV NADIRA

Aku hampir sudah melewati koridor itu ketika aku melihatnya.

Dodi.

Ia berjalan dari arah berlawanan. Kemeja digulung sampai siku, tas selempang di pundak, langkahnya santai seperti biasa.

Jantungku berdebar, tapi wajahku tetap tenang.

"Hey, Dod..."

Ia tersenyum.

"Hey. Baru beres kuliah?"

Aku mengangguk.

Hening sepersekian detik.

Sekarang atau tidak sama sekali.

"Hmm... Dod, udah mau pulang belum?"

"Ya, kebetulan mau pulang."

Aku menelan napas pelan.

"Eh... kesitu dulu mau gak?"

Aku menunjuk ke pohon besar di pinggir lapangan.

Ia mengangguk tanpa bertanya.

Kami duduk di trotoar bawah pohon itu. Sore mulai turun. Lapangan tidak terlalu ramai.

Aku diam beberapa detik. Tanganku bertumpu di lutut. Tenang. Jangan gemetar.

"Kenapa, Nad?" tanyanya akhirnya.

Aku menatap lurus ke depan.

"Dod... kamu tahu gak kenapa aku suka nelpon kamu? Kenapa aku ngajak kamu nonton?"

Aku bisa merasakan ia menelan ludah.

"Kenapa, Nad?"

Aku menarik napas panjang.

"Dod, kamu jangan ngerasa terbebani apa-apa ya. Aku cuma gak mau suatu hari nyesel karena gak jujur sama perasaan aku."

Deg.

Aku bisa merasakan udara berubah.

"Kamu jangan khawatir," lanjutku, tetap tersenyum kecil. "Aku bukan nembak atau ngajak kamu nikah. Aku cuma mau bilang... aku suka sama kamu."

Ia diam.

Aku bahkan tidak berani menatapnya.

"Aku juga gak tahu kamu sekarang punya pacar atau nggak. Kalau kamu lagi punya pacar, aku gak berniat merusak hubungan kamu."

Aku akhirnya menoleh.

Ia menatapku. Bukan marah. Bukan kaget. Tapi... seperti sedang memperhatikanku lebih dalam dari biasanya.

Untuk mencairkan suasana, aku tertawa kecil.

"Dod, kamu tahu gak? Kalau ada cerdas cermat kelas 1, 2, sama 3... kalau kelas 1 yang menang, mereka hebat. Kalau kalah, ya wajar. Tapi kalau kelas 3 yang kalah, memalukan."

Ia tersenyum, tapi masih mencoba memahami.

"Terus maksudnya?"

Aku mengangkat bahu ringan.

"Aku manfaatin posisi aku sebagai mahasiswi baru. Nothing to lose. Kalau kamu suka juga sama aku ya surprise."

Aku tertawa kecil.

"Kalau gak... ya wajar. Aku gak setara sama kamu."

Kalimat itu terasa ringan saat keluar. Anehnya.

Aku melanjutkan, lebih pelan.

Lihat selengkapnya