POV DODI
Sejak sore di bawah pohon itu, kampus terasa berbeda.
Bukan kampusnya yang berubah.
Nadira-nya.
Atau mungkin... gue.
Hari pertama setelah pengakuannya, gue datang ke kampus dengan perasaan yang aneh. Setengah berharap ada pesan masuk. Setengah berharap ponsel gue bergetar.
Tidak ada.
Tidak ada chat.
tidak ada missed call.
Tidak ada "lagi ngapain?"
Padahal sebelumnya, Nadira selalu punya alasan untuk menghubungi gue. Pinjam buku. Tanya dosen. Bahas film. Bahas hal random yang ujungnya jadi obrolan panjang.
Sekarang? Hening.
Gue sempat buka chat terakhir kami.
Pesan terakhir dari dia cuma, "makasih ya udah mau dengerin aku."
Selesai.
Seakan memang selesai.
"Jatah telpon" dari Nadira yang biasa dia kasih ke gue di hari Jumat, Sabtu, atau Minggu sudah tidak ada. Dan ini sudah berlangsung... dua minggu. Tapi.. gue merasa Nadira sudah tidak menelpon gue selama dua bulan.
Di kampus, gue beberapa kali lihat dia.
Di koridor fakultas.
Di tangga gedung lama.
Di lapangan, lagi duduk bareng teman-temannya.
Dia ketawa. Dia ngobrol. Dia tampak... ringan.
Seolah tidak ada yang baru saja dia lepaskan.
Gue berdiri beberapa meter dari situ, pura-pura ngobrol sama teman, tapi mata tetap nyari dia.
Biasanya kalau pandangan ketemu, dia akan senyum kecil. Sekarang?
Tidak.
Dia bahkan tidak melirik.