POV NADIRA
Ruang sekretariat masih berisik oleh suara koran yang disusun. Bau tinta cetak masih kuat. Aku jongkok di depan tumpukan koran, merapikan ujung-ujungnya supaya sejajar.
"Eh, Dodi."
Suara Aris membuatku refleks menoleh ke pintu.
Dodi berdiri di ambang pintu.
Pandangan kami bertemu sesaat. Jantungku langsung bereaksi terlalu cepat. Aku buru-buru menunduk lagi, pura-pura sibuk merapikan koran.
"Hmm... gue mau dong beli edisi terbaru," kata Dodi santai.
"Nih, ambil aja," jawab Aris. "Buat alumni gratis."
"Eh jangan gitu dong," Dodi tertawa kecil. "Nanti rugi."
Ia tetap meletakkan uang di meja.
Agus langsung mengambilnya dan memasukkan ke kotak kas.
"Thank you, Dod."
Aris menepuk tangan.
"Udah beres semua kan? Besok tinggal kita jualin ke semua kampus. Yuk ah, pulang dulu."
Satu-satu mereka menjawab mau nebeng. Aku ikut saja, tanpa banyak bicara.
Kami sudah di dalam mobil Aris. Dodi duduk di depan, di sebelah Aris yang menyetir.
Aku di jok tengah. Dodi terlihat seperti biasa—ngobrol, ketawa, komentar ini itu. Terkendali. Normal. Seolah kemarin-kemarin tidak ada apa-apa antara aku dan dia.
Aku hanya memperhatikan.
Sampai akhirnya aku berkata pelan,
"Aku turun di sini aja."
Mobil berhenti.
"Makasih ya, Ris," kataku.
"Iya, ati-ati Nad," jawab mereka hampir bersamaan.
Aku turun dan mulai berjalan sendiri.
"Nadira."
Aku menoleh.
Dodi setengah berlari menghampiriku.
"Kamu turun juga?" tanyaku, berusaha terdengar biasa.
"Iya," katanya sambil tersenyum.
"Mau bareng?" tanyaku lagi.
Dodi tampak mencari kata.
"Hm... kesana dulu yuk."
Ia menunjuk ke arah pohon besar di pinggir jalan. Aku mengangguk.
Kami berjalan beberapa langkah, berhenti di bawah bayangan pohon itu. Angin sore berembus pelan. Jalanan tidak terlalu ramai.
Aku menatap Dodi, menunggu.
Dodi diam sebentar. Tangannya menggaruk lehernya—yang jelas tidak gatal. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Tidak se-lancar biasanya.
"Hm..." ia menarik napas.
"Kemarin-kemarin... yang kamu bilang ke aku..."
Aku menahan napas.
"Aku kepikiran," lanjutnya pelan. "Sebenernya dari kemarin juga sih. Cuma... aku gak pengen salah langkah."
Ia menatapku, kali ini lebih serius.
"Aku gak mau buru-buru," katanya.
"Tapi aku juga gak mau pura-pura gak ada apa-apa."
Aku tetap diam. Memberinya waktu.
"Nad," katanya akhirnya, suaranya sedikit lebih rendah, "kalau kamu gak keberatan... kita jalanin aja bareng. Resmi."
Aku tersenyum. Tidak langsung menjawab. Kepalaku bekerja cepat, tapi hatiku sudah lebih dulu tenang.
Aku mengangguk.
Dodi menghembuskan napas panjang, seperti baru selesai menahan sesuatu dari tadi. Tangannya mengibas-ngibas lehernya sendiri.
Aku spontan tertawa kecil.
"Baru kali ini aku liat kamu nervous."
Dodi ikut tersenyum.
"Aku juga cowok biasa."
Ia menatapku lagi.
"Kita resmi ya?"
Aku mengangguk sekali lagi.
Kami lalu berjalan berdampingan menuju ujung gerbang kampus. Tidak ada pegangan tangan. Tidak ada kata-kata tambahan.
Kami menyeberang jalan bersama. Sampai di seberang, aku berhenti.
"Aku masuk sini," kataku, menunjuk jalan setapak menuju kosanku.
"Iya," jawab Dodi.
Aku melangkah masuk. Tidak menoleh. Tapi aku tahu—ia memperhatikanku.
Dodi kemudian berbalik ke arah berlawanan, menuju kosannya sendiri, dengan langkah ringan dan senyum yang belum juga pergi.
Dan sore itu, tanpa kafe, tanpa janji besar, tanpa siapa pun yang tahu—
kami resmi mulai.
***
Aku sampai di kosan dengan langkah hampir melompat. Begitu pintu kamarku tertutup, aku langsung belok ke kamar sebelah dan ngetok pintu Nia cepat-cepat.
Tok. Tok. Tok.
Belum sempat Nia nanya, pintunya sudah kebuka.
Aku langsung nyelonong masuk tanpa basa-basi, merebahkan badan di kasurnya dengan posisi menyilang, tas masih nyangkut di bahu.
"NIAAAAA!!!"
Nia buru-buru nutup pintu, matanya langsung berbinar.
"Apa?? Apa??? APA????"
Aku menoleh, senyumku gak bisa disembunyiin.
"Gue jadian sama Dodi."
"HUAHHHHAAAAA!!!"
Nia langsung lompat ke kasur.
"KAPAN??? GIMANA NEMBAKNYA??? SIAPA YANG NEMBAK??? CERITAIN YANG DETAIL!!!"
Aku tertawa sambil nutup muka pakai tangan, masih gak percaya.
"BENTAR... bentar..."
Aku duduk setengah bangun, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.
"Eh... ngomong-ngomong," kataku sambil ngakak kecil, "kejadiannya tuh mirip banget kayak waktu pertama kali gue kenal dia dulu."
"Hah? Maksudnya?"