POV NADIRA
Aku dan Nia lagi jalan santai di lapangan kampus. Sore itu cerah, angin sejuk, dan entah kenapa semua hal terasa lucu.
Kami cekikikan sendiri.
"Gila sih," kata Nia sambil nahan tawa.
"Iya kan?" jawabku cepat, lalu ketawa lagi.
Kami bahkan belum sempat menenangkan diri ketika seseorang muncul dari arah depan.
Dodi.
Aku refleks berhenti. Tawa langsung kutahan setengah mati.
"Eh... Dod," sapaku, suaraku mendadak rapi.
Dodi memperhatikan kami berdua, lalu tersenyum geli.
"Lagi ngetawain apa?" tanyanya.
"Baru kali ini aku liat kamu ketawanya lepas banget."
Aku belum sempat jawab ketika Nia sudah keburu nyeletuk.
"Eit, jangan salah," katanya dengan nada sok serius.
"Nadira tuh emang kayak gitu. Kesan pertama aja pendiem. Padahal kalo udah kenal dalemnya—"
Ia berhenti sebentar, lalu menatap Dodi penuh arti.
"—lebih berisik daripada orang paling cerewet."
Aku langsung nyikut lengannya sambil nahan tawa.
"Nia!"
Dodi ketawa kecil.
"Oh gitu?"
Pipiku langsung panas. Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.