Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #14

Bab 11 : Kencan Pertama

POV NADIRA

Malamnya, aku dan Nia keluar dari kosan sambil ketawa-tawa lagi. Topiknya gak penting, tapi semuanya terasa lucu.

Begitu sampai depan pagar, aku langsung berhenti.

Dodi sudah berdiri di sana.

"Dodi?" kataku kaget. "Udah dateng? Kirain masih setengah jam lagi."

"Biar gak kemaleman," jawabnya santai.

Ia lalu menoleh ke Nia.

"Boleh dipinjem Nadira-nya?"

Nia langsung pasang ekspresi dramatis.

"Yah... apa boleh buat."

Ia menghela napas panjang, lalu mendekat ke telingaku dan berbisik dengan penekanan berlebihan,

"FIRST DATE."

Aku langsung nyikut lengannya.

"Jangan lebay."

Dodi menahan tawa.

Nia lalu menatap Dodi serius—terlalu serius.

"Nih gue serahin Nadira," katanya, "kayak nyerahin bendera pusaka."

Ia mengangkat satu tangan ke lehernya sendiri.

"Kalo macem-macem sama dia... krekkk."

Dodi refleks memegang lehernya sendiri.

"Aduh... ngeri banget."

Nia nyengir puas.

"Oke. Ati-ati ya kalian. Inget jam malam. Jam sebelas kosan udah dikunci."

Ia melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam kosan.

Tinggal aku dan Dodi di depan pagar.

Dodi menoleh padaku.

"Yuk, berangkat."

Aku mengangguk dan melangkah bersamanya.

Beberapa langkah kemudian, Dodi nyeletuk,

"Ibu peri kamu galak ya."

Aku menoleh, kaget.

"Hah?"

"Soalnya," lanjutnya sambil senyum, "dateng-dateng langsung diancem. Itu bukan peri, itu bodyguard."

Aku menahan tawa, menunduk sedikit.

"Dia emang gitu. Protektif."

Dodi mengangguk sok paham.

"Pantes. Berarti aku harus berperilaku baik."

"Harus," kataku cepat, masih nahan senyum.

Kami berjalanberdampingan, menuju malam yang masih muda—

dengan langkah yang pelan,

dan perasaan yang pelan-pelan belajar keluar dari tempat sembunyinya.

****

Pegangan Tangan Pertama

Lapangan pusat kampus malam itu penuh. Lampu sorot mengarah ke panggung besar, suara band indie menggema, bass terasa sampai ke dada.

Mahasiswa dari berbagai jurusan berdatangan—ada yang berdiri berkelompok, ada yang duduk di rumput, ada yang sekadar lewat.

Aku datang bersama Dodi.

Masih terasa aneh.

Baru.

Canggung.

Aku berjalan dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket, mencoba terlihat santai. Dodi di sampingku—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

"Kita ke sana yuk," kata Dodi sambil menunjuk ke arah depan.

Aku mengangguk.

"Iya."

Kami mulai berjalan. Tanpa sadar, langkahku sedikit lebih cepat. Aku ada di depan, Dodi tertinggal setengah langkah di belakang. Aku bisa merasakan kehadirannya—tanpa perlu menoleh.

Dodi menggaruk kepalanya. Padahal jelas tidak gatal.

Aku menoleh ke belakang sebentar, memastikan ia masih ada. Dodi mengangguk kecil, seolah bilang iya, aku di sini. Aku kembali menatap ke depan.

Tanganku masih di saku jaket.

Lalu—

hap.

Satu tanganku ditarik keluar. Digenggam.

Aku refleks berhenti sebentar.

Dodi.

Ia tersenyum—sedikit gugup, sedikit yakin.

"Takut kamu ilang," katanya, santai tapi jujur.

Aku menahan tawa. Jantungku berdegup lebih cepat dari suara musik.

Lihat selengkapnya