POV NADIRA
Keesokan Harinya
Pagi di kampus terasa biasa saja. Matahari naik perlahan, mahasiswa lalu-lalang dengan tas di punggung, suara motor bersahutan. Tapi langkahku tidak sepenuhnya biasa.
Aku berjalan masuk area kampus sambil menggenggam tali tas, terlalu sadar pada sekelilingku.
Aku belum melihat Dodi.
Entah kenapa, ada rasa lega sekaligus kecewa kecil.
Baru beberapa langkah kemudian, dari arah seberang, aku melihatnya. Dodi berjalan sendiri, membawa ransel, kemeja digulung sampai siku. Wajahnya terlihat sama seperti kemarin : tenang. Tapi begitu pandangannya bertemu denganku, langkahnya sedikit melambat.
Kami berhenti hampir bersamaan.
"Pagi," katanya.
"Pagi," jawabku.
Kami berdiri berhadapan. Terlalu dekat untuk sekadar lewat, tapi juga terlalu jauh untuk menyebut ini kebetulan.
Dodi mengangguk kecil.
"Kemarin... makasih ya."
Aku tersenyum.
"Iya. Sama-sama."
Hening sebentar.
"Kamu... capek gak?" tanyanya, seperti refleks.
Aku tertawa kecil.
"Enggak."
"Tidurnya cukup?"
Aku mengangguk.
Dodi menghela napas pelan, seolah lega.
"Oke."
Kami kembali diam.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Terlalu banyak yang ingin kubilang, tapi semuanya terasa tidak perlu.
Dodi melirik jam tangannya.
"Aku ke perpustakaan dulu. Ada yang mau aku cari."
"Iya," kataku. "Aku juga mau ke kelas."
Kami berjalan beriringan beberapa langkah, lalu berhenti di persimpangan kecil.
"Ya udah," katanya. "Sampai ketemu nanti."
Aku mengangguk.
"Iya."
Ia melangkah duluan. Aku berjalan ke arah sebaliknya. Tapi sebelum benar-benar berpisah, Dodi berhenti dan menoleh.
"Nad."
Aku menoleh.
Ia tersenyum.
"Kamu kelihatan... cerah hari ini."
Aku menahan senyumku.
"Oh."
Dodi mengangguk kecil, lalu melanjutkan jalannya.
Aku berdiri sebentar sebelum melangkah lagi.
Hari itu tidak berubah apa-apa :
kelas tetap sama,
jadwal tetap padat,
kampus tetap ramai.
Tapi ada sesuatu yang diam-diam menetap di dada,
hangat, dan tidak terburu-buru untuk pergi.
****
Pelan-Pelan
Awalnya, kami masih sering berdiri agak berjauhan.
Di kampus, kalau papasan, Dodi akan berhenti sebentar.
"Eh," katanya.