POV NADIRA
Kami makan malam di kaki lima langganan mahasiswa. Meja kayu panjang, bangku plastik yang sudah agak miring, dan aroma mie goreng bercampur asap wajan.
Dodi duduk di depanku, jaketnya disampirkan di sandaran kursi. Aku memperhatikan caranya menuang sambal—pelan, tidak berlebihan. Dulu aku pasti akan menertawakan hal sepele seperti itu. Sekarang... aku cuma tersenyum.
"Kamu kok makannya rapi banget sih?" tanyaku.
Dodi menoleh.
"Rapi itu relatif."
"Enggak," kataku. "Kamu beda sama anak-anak kos lain. Biasanya sambalnya udah pindah ke meja."
Dodi tertawa kecil.
"Mungkin karena aku takut salah gerak terus kamu ilfeel."
Aku mendengus.
"Telat."
"Hah?"
"Ilfeel-nya udah dari awal," kataku sambil senyum.
Dodi mengangkat alis.
"Jadi selama ini aku ngapain?"
"Berisik," jawabku cepat.
Dodi tertawa.
"Jujur banget."
Aku menyeruput teh hangat.
"Tapi sekarang udah mendingan."
"Sekarang?" Dodi pura-pura curiga. "Berarti dulu parah?"
Aku mengangguk pelan.
"Parah."
Dodi menyandarkan punggungnya.
"Tapi kamu masih mau duduk di sini sama aku."
Aku mengangkat bahu.
"Mungkin karena aku udah kebal."
Dodi tertawa lagi, kali ini lebih lepas.
"Atau mungkin karena aku udah gak terlalu berisik."
Aku menatapnya.
"Atau mungkin karena aku udah terbiasa."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Dodi terdiam sebentar, lalu tersenyum.
"Kalau gitu, aku aman ya?"
"Untuk sementara," kataku.
Kami makan sambil ngobrol hal-hal kecil. Tentang kelas, tentang dosen yang suka datang telat, tentang Agus yang katanya hampir salah kirim chat ke dosen, tentang Aris yang mulai sibuk cari topik liputan.
Tidak ada jeda canggung. Tidak ada diam yang membingungkan. Kalau salah satu berhenti bicara, yang lain melanjutkan.
Dodi mendorong piringnya sedikit.
"Kenyang."