Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #19

Bab 16 : Sidang Skripsi Dodi

Pagi Sidang

Koridor depan ruang sidang masih lengang. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela tinggi, memantul di lantai yang bersih. 

Dodi berdiri sendiri, rapi dari atas sampai bawah—kemeja biru lengan panjang, dasi merah, sepatu hitam yang mengilap.

Di tangannya, dokumen tebal skripsinya terbuka. Ia membaca ulang, pelan, seperti menenangkan diri sendiri. Napasnya teratur, bahunya tegak. Wajahnya serius—bukan tegang, lebih ke fokus.

Langkah kaki terdengar cepat.

"Dod!"

Nadira muncul setengah berlari. Napasnya sedikit terengah, tas disampirkan sembarang.

"Udah mau mulai sidangnya?" tanyanya.

Dodi menoleh, lalu tersenyum begitu melihatnya.

"Bentar lagi."

Nadira mengangguk, ikut tersenyum.

"Semangat ya."

Ia melirik jam tangannya.

"Aku lima menit lagi ada kuliah. Aku pergi dulu ya."

"Iya," jawab Dodi. Ia mengangguk kecil, senyumnya masih tinggal.

Nadira berbalik dan mulai berjalan cepat ke arah tangga. Beberapa langkah kemudian, ia berhenti. Menoleh.

"Dod..."

Dodi mengangkat wajah.

"Kamu ganteng banget," kata Nadira sambil tersenyum lebar—tanpa beban, tanpa ragu.

Dodi tertawa kecil, refleks.

"Eh..."

Nadira sudah keburu lari lagi, menyelip di antara pintu-pintu kelas.

Dodi masih berdiri di tempatnya. Senyum di wajahnya belum hilang saat suara dari dalam ruangan memanggil namanya.

"Dodi Narendra."

Ia menutup dokumen, menarik napas, lalu melangkah masuk.

Pagi itu, sebelum duduk di hadapan para penguji, Dodi merasa—

ia sudah diberi satu hal yang cukup untuk menenangkan segalanya.

************

Setelah Sidang

Pintu ruang sidang terbuka.

Dodi keluar dengan wajah sumringah—lega yang tidak ditahan-tahan. Beberapa temannya langsung menghampiri. Ada yang baru selesai sidang juga, ada yang memang menunggu sejak tadi.

"Gimana, Dod?"

"Lulus gak?"

Dodi tersenyum lebar.

"Lulus."

Tepuk tangan kecil muncul. Mereka menyalami Dodi satu per satu. Bahunya ditepuk, tangannya digenggam.

Obrolan segera mengalir—tentang pertanyaan penguji, tentang bagian skripsi yang sempat dicecar, tentang dosen yang hari itu tampak lebih ramah dari biasanya.

Dodi ikut tertawa, ikut berbagi. Cara bicaranya tenang, runtut. Wajahnya terlihat dewasa—berwibawa di antara teman-temannya.

Di ujung koridor, Nadira berdiri.

Nadira baru datang. Tidak langsung mendekat. Nadira melihat Dodi dari jauh, dikelilingi orang-orang yang merayakan fase hidup yang sama dengannya.

Nadira tersenyum.

Bukan senyum sedih. Bukan juga iri. Lebih seperti rasa puas melihat seseorang yang ia cintai berdiri di tempat yang memang pantas ia tempati.

Nadira berbalik dan melangkah pergi.

Dodi, di sela obrolannya, sempat menoleh. Sekilas. Ia melihat punggung Nadira yang menjauh. Tatapan mereka tidak bertemu lama. Tapi cukup.

***********

POV NADIRA

Malam di Kosan

Malam itu, aku duduk di lantai kosan bersama Nia. Kami ngobrol santai, kaki berselonjor, jendela sedikit terbuka.

"Pacar lo udah sarjana dong," kata Nia sambil tersenyum lebar.

Lihat selengkapnya