Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #22

Bab 18 : Pekerjaan Pertama

Ruang wawancara itu sederhana.

Dindingnya didominasi warna putih dengan beberapa bingkai poster kampanye iklan yang pernah memenangkan penghargaan. 

Di sisi lain ruangan, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menutup map berisi CV Dodi.

"Kalau melihat pengalaman organisasi dan portofolio kamu," katanya sambil tersenyum, "saya rasa kamu punya potensi berkembang cukup cepat."

Dodi mengangguk pelan.

"Terima kasih, Pak."

Pria itu kembali membuka map.

"Saya mau tanya satu pertanyaan terakhir."

Dodi mengangguk.

"Silakan."

"Kalau diterima di perusahaan ini, target kamu lima sampai sepuluh tahun ke depan apa?"

Dodi terdiam beberapa detik. Bukan karena tidak tahu jawabannya.

Justru karena ia sudah lama memikirkannya.

"Saya mau cari pengalaman kerja sebanyak mungkin dulu, Pak."

Pria itu mengangguk, mempersilakannya melanjutkan.

"Saya masih merasa banyak yang harus saya pelajari."

"Setelah itu?"

"Kalau memungkinkan, saya ingin lanjut S2."

"Jurusan?"

"Mungkin komunikasi. Atau manajemen."

"Kenapa?"

"Karena saya ingin memahami bisnisnya juga, bukan cuma pekerjaannya."

Pria itu tersenyum tipis.

"Lalu?"

Dodi ikut tersenyum.

"Kalau suatu hari nanti saya sudah cukup pengalaman..."

Ia berhenti sebentar.

"...saya ingin membangun agency sendiri."

Ruangan kembali hening.

Pewawancara menatap Dodi beberapa detik.

"Lumayan jelas ya roadmap kamu."

Dodi tersenyum kecil.

"Saya cuma nggak mau berhenti belajar, Pak."

Pria itu menutup mapnya.

"Baik."

Ia berdiri dan mengulurkan tangan.

"Terima kasih sudah datang."

"Terima kasih juga, Pak."

************

Begitu keluar dari gedung, Dodi mengembuskan napas panjang.

Baru kali itu ia sadar pundaknya terasa pegal.

Ia tersenyum sendiri. Setidaknya, bagian tersulit hari itu sudah selesai.

*************

Malam harinya, ponsel Dodi berdering.

Nama Nadira muncul di layar.

"Halo."

"Gimana?"

Dodi tertawa kecil.

"Belum juga halo udah ditanya."

"Soalnya penasaran."

"Kayaknya lumayan."

"Ceritain."

Dodi pun menceritakan jalannya wawancara.

Tentang ruang meeting.

Tentang pewawancaranya.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya cukup menantang.

"...terus dia nanya target lima sampai sepuluh tahun ke depan."

"Nah terus?"

"Aku bilang pengen cari pengalaman dulu."

"Hmm..."

"Terus kalau memungkinkan aku pengen lanjut S2."

Nadira langsung tersenyum.

"Serius?"

"Iya."

"Keren."

"Biasa aja."

"Nggak biasa."

Suara Nadira terdengar benar-benar kagum.

"Kamu udah mikirin sampai situ."

Dodi tertawa pelan.

"Ya dipikirin pelan-pelan."

"Lalu?"

"Kalau nanti udah cukup pengalaman..."

"Apa?"

"...ya pengen bikin agency sendiri."

"Wow."

Dodi tertawa mendengar nada suara Nadira.

"Jangan wow dulu."

"Ya tetep aja keren."

Beberapa detik mereka sama-sama diam.

Lalu Dodi berkata pelan,

"Kamu juga bisa, Nad."

"Apa?"

"Kalau suatu hari nanti mau lanjut S2."

Nadira tersenyum.

"Ah..."

"Serius."

"Kamu punya kemampuan."

Dodi melanjutkan,

"Kamu juga punya cara mikir yang bagus."

"Nggak juga."

"Jangan ngerendahin diri sendiri."

Nadira tertawa kecil.

"Aku serius."

"Kamu punya potensi buat berkembang."

Ia berhenti sebentar.

"Jangan takut ngambil langkah yang lebih maju."

"Iya..."

Nadira menjawab pelan.

"Iya..."

Percakapan mereka berlanjut ke hal-hal lain. Tentang makan malam. Tentang kos. Tentang jadwal kuliah.

Sampai akhirnya telepon ditutup.

************

Kamar kos kembali sunyi.

Nadira meletakkan ponselnya di samping bantal.

Malam itu ia justru tidak memikirkan wawancara Dodi.

Yang terus berputar di kepalanya adalah kalimat-kalimat Dodi tentang masa depan.

S2.

Lihat selengkapnya