POV NADIRA
Dodi menjemputku Sabtu siang, di rumah orangtuaku di Bogor. Seperti sebelumnya, dia hanya sampai depan pagar.
Aku mau selesai libur kuliah. Sebelum kembali ke Jatinangor, aku janjian dulu sama Dodi. Ia mengajakku ke Jakarta.
Dodi sudah rapi, kemeja digulung sampai siku, jam di pergelangan tangannya tampak baru.
"Hari ini aku mau ajak kamu makan bareng temen-temen kantor," katanya sambil menutup pintu mobil.
Aku mengangguk.
"Oh."
Bukan tidak mau. Hanya... belum terbiasa.
Restoran tempat kami bertemu ramai, tapi tertata. Meja panjang sudah dipesan.
Beberapa orang berdiri sambil tertawa, berbincang dengan suara mantap—suara orang-orang yang tahu mereka sedang menuju ke mana.
"Ini Nadira," kata Dodi ketika kami mendekat.
"Pacarku."
Aku tersenyum, menyalami satu per satu. Nama-nama lewat cepat di kepalaku, tapi tidak sempat tinggal lama.
Mereka ramah. Bertanya seperlunya. Lalu kembali ke obrolan yang bergerak cepat : tentang klien, target, dan deadline.
Aku duduk di samping Dodi. Mendengarkan. Sesekali tertawa ketika mereka tertawa, meski tidak selalu tahu bagian mana yang lucu.
Salah satu rekan Dodi—perempuan—mengajaknya ngobrol cukup lama. Mereka terlihat akrab. Tidak berlebihan. Tapi jelas nyaman. Seperti dua orang yang berbagi rutinitas yang sama.
Aku menusuk-nusuk makanan pelan.
Dodi sesekali menoleh ke arahku. Menyenggol lututku di bawah meja. Isyarat kecil: aku di sini. Aku membalas dengan senyum tipis.
Selesai makan, mereka berpamitan. Ada tepukan di bahu Dodi, candaan soal kerja besok. Dunia yang terasa rapi dan bergerak.
Di mobil, menuju Bogor, suasana lebih sunyi. Dodi menyetir santai. Aku menatap jalan.
"Kamu oke?" tanyanya.
Aku mengangguk cepat.
"Oke."