Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #26

Bab 22 : Momen-momen Skripsi Nadira

POV NADIRA

Ruang Tamu Kosan—Bimbingan Skripsi oleh Dodi

Setelah bertahun-tahun kuliah akhirnya giliranku tiba : menyusun skripsi. Targetku untuk menyelesaikan kuliah S1 tepat waktu, empat tahun, hampir tercapai.

Dodi kagum padaku. Bahkan dirinya saja total lima tahun menyelesaikan kuliah dan menyusun skripsi.

Ruang tamu kosanku sempit, tapi sore itu terasa cukup. Laptop terbuka di meja kecil.

Beberapa buku teori komunikasi bertumpuk rapi di sampingnya—sampulnya sudah kusam, penuh catatan tempel warna-warni.

Dodi duduk bersandar di kursi plastik, satu kaki dilipat. Tangannya memegang pulpenku, memutarnya pelan sambil menatap layar.

"Kita mulai dari yang paling dasar dulu," katanya tenang.

"Kamu mau skripsinya kuantitatif atau kualitatif?"

"Kualitatif," jawabku tanpa ragu.

Dodi mengangguk.

"Oke. Berarti kamu pengen gali makna, bukan angka."

Ia mencondongkan badan sedikit. "Topiknya masih seputar apa?"

"Aku pengen bahas representasi," kataku. "Lebih ke bagaimana makna dibentuk."

"Masuk akal," katanya. "Terus kamu mau berangkat dari teori siapa?"

Aku menyebut satu nama ahli teori komunikasi yang sejak awal menarik perhatianku.

Dodi tidak langsung menjawab. Ia berpikir sebentar, lalu berkata,

"Kalau kamu pakai dia, fokus kamu bakal kuat di konstruksi makna."

"Tapi kamu juga bisa bandingin sama pendekatan yang lebih struktural."

Ia mengambil satu buku dari tumpukan.

"Misalnya, ini," katanya sambil menunjuk. "Pendekatannya lebih melihat bagaimana pesan dibentuk oleh sistem."

"Sedangkan yang kamu sebut tadi lebih melihat pengalaman subjek."

Aku mengangguk, mencatat.

"Pertanyaannya," lanjut Dodi, suaranya tetap santai,

"kamu mau berdiri di posisi mana?"

"Sebagai pengamat struktur, atau pendengar pengalaman?"

Aku terdiam sebentar.

"Pendengar," kataku akhirnya. "Aku pengen ngasih ruang ke subjeknya."

Dodi tersenyum kecil.

"Berarti kamu cocok ke pendekatan interpretatif."

Ia mulai menjelaskan pelan, tidak terburu-buru. Tentang bagaimana pendekatan itu bekerja, bagaimana peneliti hadir bukan sebagai penilai, tapi sebagai penerjemah makna.

"Kamu bisa pakai analisis wacana," katanya.

"Atau kalau kamu mau lebih dalam ke pengalaman personal, pendekatan fenomenologi juga bisa."

"Bedanya?" tanyaku.

"Analisis wacana lebih fokus ke teks dan bahasa," jelasnya.

"Fenomenologi fokus ke pengalaman hidup subjek."

"Kamu harus tanya ke diri kamu sendiri, yang mana yang paling jujur sama caramu melihat dunia."

Aku menatap layar laptop.

"Kayaknya... fenomenologi."

Dodi mengangguk.

"Itu berani," katanya. "Tapi cocok sama kamu."

Aku tersenyum kecil.

"Kenapa?"

"Karena kamu sabar dengerin orang," jawabnya ringan. "Dan itu penting."

Ia lalu membahas soal teknik pengumpulan data : wawancara mendalam, observasi, cara menentukan informan. Tentang pentingnya konsistensi konsep, dan bagaimana menulis latar belakang masalah supaya tidak melebar.

"Intinya," katanya sambil menutup buku,

"Skripsi itu bukan soal pinter-pinteran. Tapi soal kamu tau apa yang mau kamu cari, dan kenapa itu penting."

Aku menatapnya.

"Kamu kok bisa inget semua ini sih?"

Dodi tertawa kecil.

"Karena dulu aku juga bingung. Dan karena aku tau rasanya pengen dibimbing, bukan digurui."

Aku tersenyum, hangat.

Di ruang tamu kosan yang sempit itu, di antara laptop terbuka dan buku-buku teori, aku tidak merasa kecil. Tidak merasa tertinggal.

Aku merasa ditopang.

Bukan hanya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyiapkan skripsi, tapi sebagai seseorang yang sedang belajar percaya pada caranya sendiri berpikir.

Dan sore itu, Dodi bukan hanya pacarku. Ia adalah senior yang tahu kapan harus memimpin,

dan tahu kapan harus memberi ruang.

*************

Akademik yang Ringan

Laptop masih terbuka, tapi suasana sudah tidak setegang tadi. Dodi bersandar ke kursi, memutar pulpen di jari, matanya menatap dinding seperti sedang menyusun sesuatu di kepala.

"Judul kamu nanti jangan kepanjangan," katanya tiba-tiba.

Aku mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena dosen suka yang keliatan rapi," jawabnya santai. "Kalau kepanjangan, biasanya dipotong pas seminar."

Aku tertawa kecil.

Lihat selengkapnya