Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #27

Bab 23 : Kelulusan Nadira

POV NADIRA

Pagi Sidang Skripsi Nadira

Cahaya pagi masuk lewat jendela kamar kos, jatuh di meja belajarku. Di atas meja, satu dokumen tebal sudah tergeletak rapi. Sampulnya putih, judulnya tercetak jelas.

Skripsi.

Aku berdiri di depan cermin. Kemeja putih sudah terpasang rapi, blazer hitam menutup bahuku, rok selutut hitam membuatku terlihat lebih dewasa dari biasanya. Rambutku kukuncir rendah, sederhana.

Ponselku bergetar.

Dodi.

Aku mengangkatnya sambil tersenyum.

"Halo."

"Kamu udah siap berangkat ke kampus?" suaranya terdengar terlalu bersemangat untuk jam segini.

"Bentar lagi," jawabku sambil meraih tas. "Aku lagi cek berkas."

"Udah sarapan belum?" tanyanya cepat.

"Kamu perlu ditemenin nggak? Apa perlu aku cuti terus langsung ke Jatinangor?"


Ia tertawa sendiri. "Kenapa kamu yang mau sidang aku yang sakit perut ya?"

Aku tertawa.

"Gak usah berlebihan ah."

"Ini penting, Nad."

"Iya, tapi kamu juga penting," balasku. "Doain aku aja. Nanti kalau sidang udah selesai, aku kabari."

Aku menutup resleting tas, melihat sekali lagi meja yang kosong—tempat aku menulis bertahun-tahun.

"Nad..." suara Dodi menahanku sebelum aku menutup telepon.

"Ya?"

Ada jeda sebentar. Suaranya lebih pelan.

"Kamu pasti bisa."

Aku tersenyum.

"Makasih."

Telepon kututup.

Aku menarik napas panjang, mengangkat tas, lalu melangkah keluar kamar.

Pintu kos tertutup di belakangku dengan bunyi pelan. Lorong masih sepi. Udara pagi Jatinangor dingin, tapi menyegarkan.

Aku melangkah dengan tenang.

Bukan hanya sebagai mahasiswa yang mau sidang. Tapi sebagai seseorang yang sudah belajar berdiri di kakinya sendiri.

*******

Hari yang Lulus

Aku menutup pintu kamar kosan dengan punggungku. Tas aku letakkan begitu saja di kursi. Sepatu kulepas asal.

Aku berdiri sebentar—lalu tersenyum lebar tanpa alasan lain selain: akhirnya.

Aku lulus.

Lihat selengkapnya