POV NADIRA
Reuni SMP
Aku baru lulus kuliah. Acara reuni kecil-kecilan itu sederhana, diadakan kafe biasa di Bogor. Beberapa meja digabung, terdengar suara tawa yang masih canggung karena lama tak bertemu.
Dodi duduk di sampingku, rapi seperti biasa. Tapi dari caranya menatap sekeliling, aku tahu ia merasa... salah kostum.
"Kamu kenapa?" bisikku.
Dodi mendekat.
"Kayaknya aku paling tua di sini."
Aku tertawa.
"Lebay. Masa nervous?"
"Nervous," katanya jujur.
Aku menepuk lengannya.
"Santai. Mereka temen SMP aku, Dod. Masih bocah."
Dodi mendengus pelan.
Aku pamit ke toilet. Di lorong sempit, aku papasan dengan seorang teman lama. Kami berhenti.
Basa-basi berubah jadi cerita singkat—tentang sekolah dulu, tentang hidup sekarang. Obrolannya agak lama. Kadang serius. Kadang ketawa, karena beberapa kenangan memang lucu kalau diingat ulang.
Aku tidak sadar Dodi memperhatikan dari jauh.
Saat aku kembali ke meja, Dodi menatapku dengan cara yang... berbeda. Tidak marah. Tidak dingin. Tapi jelas penuh pertanyaan.
"Siapa tadi?" tanyanya.
"Oh," jawabku santai sambil duduk. "Temen satu kelas waktu SMP."
"Lama ngobrolnya," katanya.
"Ya udah lama gak ketemu," jawabku ringan.