Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #30

Bab 25 : Pindah Ke Bandung

POV DODI

Pindah Kos

Siang itu panasnya Jatinangor agak berlebihan. Lorong kosan sempit, dan barang-barang Nadira berjejer di depan pintu. Tidak banyak, tapi cukup membuat mobil gue terlihat kepenuhan.

Gue mengangkat satu per satu. Kardus buku, tas baju, kotak alat tulis. Masuk akal.

Lalu gue berhenti.

Gue menatap dua benda yang berdiri canggung di lantai:

sebuah bangku kecil dengan dua kaki, dan lampu meja dengan bentuk yang... sulit dijelaskan.

Gue mengernyit, menoleh ke Nadira.

"Ini apaan?"

Nadira sedang menutup pintu kamarnya, lalu menoleh santai.

"Bangku."

"Bangku... kenapa kakinya cuma dua?"

Gue memiringkan kepala, berusaha memahami.

"Itu desain," jawabnya ringan, seolah itu penjelasan paling logis di dunia.

Gue menghela napas kecil, hampir tertawa.

"Kamu pindah dari Bogor ke Jatinangor bawa beginian segala? Kirain pindahan anak kos tuh isinya tas baju sama buku doang."

Nadira mengambil lampu meja itu, memeluknya sebentar.

"Ini barang-barang kesayanganku," katanya. "Biar gak terlalu kangen rumah."

Gue terdiam sesaat. Lalu mengangguk pelan.

"Oh."

Kami mencoba memasukkan semuanya ke mobil. Gagal. Bangku itu terlalu panjang untuk dimiringkan tanpa menghimpit barang lain.

Gue bersandar ke pintu mobil.

"Jadi... ini mau diapain?"

Nadira menatap bangku itu, lalu menatap gue.

"Hmm..."

Beberapa detik kemudian, ia sudah duduk di kursi penumpang, bangku itu dipangku, dipegangi seperti benda rapuh.

Gue menoleh, lalu tertawa lepas.

"Harusnya bangku itu buat duduk, Nad. Ini malah kamu yang duduk sambil mangku bangku."

Nadira tersipu.

"Berisik."

Gue menyalakan mesin.

Sepanjang jalan, setiap kali melirik ke samping, gue selalu menemukan pemandangan yang sama: Nadira memeluk bangku berkaki dua itu dengan serius, seperti menjaga rahasia penting.

Dan entah kenapa, itu membuat perjalanan Jatinangor-Bandung terasa... ringan.

*********

Bandung menyambut kami dengan udara yang lebih dingin. Kosan baru Nadira lebih rapi, lebih tenang.

Gue membantu mengangkat barang sampai ke kamarnya. Tangan gue pegal, kaus gue basah oleh keringat.

Begitu semuanya selesai, gue duduk sebentar di lantai.

Nadira mendekat.

"Makasih ya," katanya pelan. "Udah bantu aku pindahan."

Gue mengibaskan tangan.

Lihat selengkapnya