POV NADIRA
Baskin & Robbins
Bandung sore itu tidak terlalu ramai. Awan menggantung rendah, membuat udara terasa sejuk, cukup untuk berjalan tanpa terburu-buru.
Dodi datang ke kosanku menjelang sore. Kali ini ia ke Bandung dari Jakarta dengan mobil travel. Aku sudah siap sejak satu jam lalu.
Gaji pertamaku masih terasa seperti sesuatu yang harus sering kucubit supaya yakin itu nyata.
"Kamu kelihatan seneng," kata Dodi begitu melihatku.
"Soalnya aku mau traktir," jawabku cepat, hampir tidak bisa menyembunyikan senyum.
Dodi tertawa kecil.
"Wah, serius nih?"
Kami naik angkot menuju BIP. Duduk bersebelahan, bahu kami bersentuhan ringan setiap kali jalan bergelombang. Dodi memandang keluar jendela, aku memandangi papan toko yang lewat satu per satu.
Di dalam mal, langkah kami melambat. Tidak ada tujuan besar. Sampai akhirnya aku berhenti di depan gerai es krim.
"Ini," kataku.
Dodi menoleh.
"Baskin & Robbins?"
Aku mengangguk.
"Satu scoop buat kamu. Satu buat aku."
Dodi tertawa sambil menggeleng.
"Kamu gak nyesel bayar mahal cuma dapet es krim?"
Aku menatap etalase es krim sebentar, lalu menoleh ke arahnya.
"Nggak," kataku jujur.
"Aku pengen kamu ngerasain apa yang paling aku pengen."
Dodi terdiam, mendengarkan.
"Aku dari dulu pengen banget makan es krim Baskin & Robbins," lanjutku.
"Tapi mahal banget."
"Sekarang kesampean... pake duit sendiri."
Aku memilih rasa dengan hati-hati. Dodi memilih cepat—seperti biasa.
Kami duduk di bangku dekat jendela. Dua cup kecil di tangan kami. Es krim mulai sedikit meleleh.
Dodi mencicipi lebih dulu.
"Enak," katanya sambil tersenyum.
Aku juga menyendok punyaku. Rasanya manis, dingin, dan entah kenapa sedikit mengharukan.
"Kamu tau," kata Dodi sambil menatap cup-nya,
"terserah kamu mau traktir apa."
Aku mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Buat aku," katanya ringan, "gak penting traktirannya apa."