Jumat malam selalu menjadi malam yang paling ditunggu Dodi.
Besok tidak perlu berangkat ke kantor. Tidak ada alarm pukul enam pagi. Tidak ada rapat yang harus dipersiapkan.
Sesampainya di rumah, Dodi mandi sebentar, lalu membuat segelas kopi. Laptop di meja belajarnya langsung menyala.
Bukan untuk membuka pekerjaan.
Malam itu ia membuka sesuatu yang sudah beberapa minggu terakhir mulai sering muncul di kepalanya.
Program magister.
Satu per satu situs universitas ia buka.
Universitas negeri.
Universitas swasta.
Program kelas karyawan.
Jadwal perkuliahan.
Biaya.
Kurikulum.
Sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu tergeletak di samping laptop.
Sudah tiga tahun ia bekerja di perusahaan advertising.
Tiga tahun yang penuh dengan deadline, presentasi, revisi, dan proyek-proyek yang mengajarinya jauh lebih banyak daripada yang pernah ia bayangkan ketika masih menjadi mahasiswa.
Hubungannya dengan Nadira pun sudah memasuki tahun keempat.
Entah kenapa, malam itu ia merasa hidupnya kembali sampai di sebuah persimpangan kecil.
Sudah waktunya memikirkan langkah berikutnya. Bukan karena ia terburu-buru. Melainkan karena memang begitulah caranya menjalani hidup.
Selalu ada ruang untuk belajar lagi.
Ponselnya bergetar. Nama Nadira muncul di layar.
Senyum tipis langsung muncul di wajah Dodi.
"Halo."
"Halo."
"Lagi ngapain?"
"Lagi buka laptop."
"Kerjaan kantor?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Lagi cari-cari informasi S2."
"Oh?"
Suara Nadira terdengar sedikit lebih hidup.
"Kamu udah mau ambil S2?"
"Belum sekarang."
Dodi tertawa kecil.
"Masih cari-cari jurusan, biaya, sama kampusnya."
"Mau ambil di mana?"
"Jakarta aja."
"Kenapa?"