POV NADIRA
Dodi menjemputku pagi-pagi di pool travel yang aku tumpangi dari Bandung ke Jakarta. Ia sudah rapi memakai kemeja polos dan jam tangan yang biasa ia pakai kerja.
Wajahnya tenang, tapi aku tahu dari cara ia menarik napas sedikit lebih panjang, hari ini bukan hari biasa.
"Kamu siap?" tanyanya sambil menyalakan mesin mobil.
Aku mengangguk.
"Siap."
Jakarta masih setengah bangun. Jalanan belum terlalu padat. Dodi menyetir dengan fokus, sesekali melirikku.
"Nanti santai aja," katanya. "Mama papa nggak ribet."
"Kamu ngomong gitu biar aku tenang ya," kataku.
Dodi tersenyum kecil.
"Iya."
Kami berhenti di depan rumahnya. Rumah itu rapi, tidak berlebihan. Ada tanaman di halaman. Pintu pagar terbuka.
"Yuk," katanya.
Aku melangkah masuk dengan napas yang kuatur pelan.
Ibunya keluar lebih dulu. Senyumnya langsung muncul saat melihat Dodi.
"Dod," katanya, lalu menoleh ke arahku.
Dodi berdiri di sampingku, suaranya jelas tapi lembut.
"Ma, Pa... ini Nadira."