POV NADIRA
Suatu hari, kami duduk di kafe kecil dekat kantor baruku di Bandung. Tempatnya sederhana, meja kayu, lampu kuning.
Dodi baru datang dari Jakarta, masih pakai kemeja kerja. Aku memesan teh hangat. Dodi kopi hitam.
"Kantor kamu gimana?" tanyanya.
"Capek," jawabku jujur. "Tapi aku seneng."
Dodi mengangguk.
"Bagus."
Ia menyesap kopinya, lalu meletakkannya pelan. Seperti sedang menyiapkan kalimat.
"Nad," katanya, nadanya ringan tapi terukur, "kamu pernah kepikiran kerja di Jakarta?"
Aku menoleh.