Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #38

Bab 33 : Wawancara Kerja di Jakarta

Mobil travel melaju pelan memasuki tol dalam kota. Nadira duduk di kursi dekat jendela, tas di pangkuan, map berisi CV dan portofolio diselipkan rapi di dalamnya. Jantungnya tidak bisa diajak kompromi sejak pagi.

Ponselnya bergetar.

Dodi.

Nadira menarik napas sebelum mengangkat.

"Udah sampai mana?" suara Dodi terdengar cerah di seberang.

"Baru masuk tol dalam kota," jawab Nadira sambil melirik deretan gedung yang mulai rapat.

"Okay. Good luck ya wawancaranya. Jangan tegang."

Nadira tertawa kecil. "Kamu ngomong gitu bikin aku makin sadar kalau ini momen tegang."

Dodi ikut tertawa. "Ya udah. Santai aja. Anggap aja lagi ngobrol sama aku."

"Hah? Kalau sama kamu malah deg-degan."

"Wah, berarti HRD-nya harusnya minder."

Nadira tersenyum sendiri, menatap jalan yang memanjang di depan.

"Nanti pulangnya gimana?" tanya Dodi. "Mau aku jemput?"

"Gak usah, Dod. Habis interview aku langsung naik travel lagi ke Bandung."

Dodi berdecak pelan.

"Ck... kamu ke Jakarta tapi kita gak bisa ketemu."

"Ya namanya juga hari kerja. Kamu kerja, aku wawancara."

"Ya udah. Wish you luck."

"Wish me luck, ok?"

"Very much. Ati-ati."

Telepon terputus. Nadira memejamkan mata sebentar.

*********

Beberapa kali Nadira menerima undangan wawancara kerja di Jakarta.

Gedung-gedung tinggi Jakarta. Ruang tunggu dengan kursi berderet.

Nadira duduk mengisi tes tertulis. Tangan cepat, pikiran lebih cepat.

Wawancara pertama.

Wawancara kedua.

Pertanyaan tentang pengalaman, target, visi lima tahun.

Lihat selengkapnya