Kamar kosan Bandung itu sunyi sore itu. Nadira duduk di lantai, laptop di pangkuan, rambutnya masih sedikit basah habis mandi.
Notifikasi email masuk. Ia mengkliknya.
Beberapa detik membaca. Lalu senyumnya pelan-pelan melebar. Ia menutup mulutnya sendiri, menahan suara kecil yang hampir lolos. Tanpa pikir panjang, ia meraih ponsel dan menekan nama yang paling sering ia hubungi.
Dodi.
"Dod, lagi sibuk gak?" suaranya terdengar lebih cepat dari biasanya.
"Udah nggak. Baru mau pulang dari kantor," jawab Dodi. "Kenapa?"
"Dod... aku besok ada janji interview di Jakarta."
Dodi terdiam sesaat.
"Besok? Kan Sabtu... bukan hari kerja."
"Iya," Nadira tersenyum. "Guru penulisan skenario dari kelas online yang aku ikutin nawarin aku masuk tim skenarionya dia."
"Hm."
"Skenario sinetron?"
"Iya! Dia udah bikinin aku janji sama head scriptwriter-nya. Besok ketemuan di Pondok Indah Mall."
"Oh..." Nada Dodi terdengar campur antara kaget dan mencoba netral. "Oke... kamu naik apa dari Bandung?"
"Aku mau pesen travel. Langsung turun di Pondok Indah."
"Ya udah, pulangnya aku jemput aja gimana? Sekalian malem mingguan di Jakarta."
Nadira tertawa kecil.
"Oke."
********
Keesokan harinya.
Pondok Indah Mall ramai tapi rapi. Nadira duduk di salah satu kafe, menunggu.
Tak lama, seorang pria datang—kaos hitam, jeans, sepatu boots, rambut cepak kekinian. Santai, tapi aura pemimpin terasa.
"Andre," katanya sambil menjabat tangan Nadira.