POV NADIRA
Jambret
Bajaj itu melaju pelan, menyelinap di antara mobil-mobil yang berhenti setengah hati. Anginnya panas, bercampur bau bensin.
Aku duduk diam di dalam bajaj, tas kupeluk di pangkuan—isinya laptop, dompet, ponsel. Seluruh hidupku, rasanya, ada di situ.
Aku hampir sampai. Lalu dari sisi kanan, sebuah tangan muncul. Tidak kasar. Tidak tergesa. Gerakannya pelan—hampir sopan.
Tanganku mengendur. Aku melihat tangan itu meraih talinya. Otakku seperti berhenti memberi perintah.
Aku tahu itu salah. Aku tahu itu berbahaya. Tapi tubuhku diam. Seolah ada jeda tipis antara sadar dan tidak.
Tas itu berpindah ke motor yang melintas. Detik berikutnya, dunia kembali menyala.
"Eh—!"
Dadaku menghantam udara.
Refleks. Panik. Tanpa berpikir, aku menjulurkan tubuh keluar jendela bajaj yang masih berjalan, tanganku menggapai sesuatu yang sudah menjauh.
Motor itu keburu melesat—lalu tergelincir entah karena apa.
Aku juga jatuh. Kaki kiriku terseret aspal. Panasnya menusuk, seperti disayat perlahan. Bajaj baru berhenti beberapa meter setelahnya. Sopirnya berteriak panik.
Aku berdiri tertatih. Lututku gemetar.
"COPET!!!"
Teriakku pecah—terlambat.
Motor itu sudah jauh. Tas itu ikut pergi. Aku terisak dan napasku patah-patah.
********
Pos Polisi
Aku duduk di bangku kayu pos polisi terdekat. Kakiku perih, tapi belum diobati.
Polisi mengetik laporan sambil bertanya singkat-singkat. Aku menjawab seperlunya, suaraku masih gemetar.
"Pak... saya boleh nelpon?" tanyaku.
Polisi mengangguk. Aku meminjam ponsel. Jemariku gemetar saat mau memencet nomor. Saat ini hanya ada satu nomor yang aku hafal di kepala.
Panggilan tersambung.
"Hallo?" suara laki-laki terdengar heran. "Ini siapa ya?"
"Dod..." suaraku pecah. "Ini aku..."
"Nad?" Suaranya berubah. "Kamu di mana?"
"Di pos polisi," kataku terbata. "Dekat Blok M... aku dijambret."
"Apa?"
Aku bisa mendengar kursinya bergeser.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Tadi aku keseret bajaj," kataku lirih. "Kakiku luka..."
"Hah??" Suaranya naik. "Aku ke sana sekarang. Sekarang ya."
Telepon terputus.
Aku menatap lantai. Air mataku jatuh pelan, satu-satu.
*********
Dodi Datang
Aku tahu Dodi datang bahkan sebelum melihatnya. Langkahnya cepat.
"Nad—"
Ia berhenti mendadak saat melihat kakiku.
Lukanya memanjang di tulang kering. Kulit terbuka. Putih tulang terlihat samar di balik darah yang mengering. Wajah Dodi langsung pucat.
"Ya Allah..." katanya pelan.
Ia bertanya cepat ke polisi. Jawaban singkat dari polisi, semuanya prosedural.
Tanpa banyak bicara, Dodi meraih lenganku, memapahku keluar. Tangannya hangat. Pegangannya kuat—tapi hati-hati, seperti takut aku pecah.
*********