Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #44

Bab 38 : Ruang yang Dijaga Terlalu Rapat

POV NADIRA

Selama kakiku belum benar-benar pulih, aku tinggal di Bogor. Rumah terasa lebih sunyi dari yang kuingat—atau mungkin aku yang berubah.

Mama membantuku berjalan, papa mengantar urusan administrasi. Aku mengurus KTP yang hilang, bolak-balik fotokopi berkas, antre dengan kaki yang masih nyeri.

Aku membeli laptop baru. Ponsel baru. Semua dari tabungan honorku menulis skenario.

Saat pertama kali membuka laptop itu, tanganku gemetar sedikit. Rasanya seperti memulai hidup lagi—dengan folder kosong, tanpa cadangan, tanpa jejak.

Aku menelepon Dodi dengan nomor baruku.

"Halo?"

"Dodi... ini aku."

"Nad?" Suaranya langsung berubah. "Kamu pakai nomor baru?"

"Iya. Ponselku udah ganti."

"Syukurlah," katanya cepat. "Kamu gimana? Kakinya?"

"Masih perih dikit. Tapi udah mendingan."

"Nanti aku ke rumah ya," katanya tanpa jeda. "Biar aku liat langsung."

Aku mengangguk meski ia tak bisa melihat.

"Iya."

********

Kunjungan

Dodi datang dua hari kemudian. Dari kantornya di Jakarta, ke Bogor untuk menengokku. Kemejanya rapi, wajahnya terlihat lelah tapi fokus. Begitu melihat kakiku yang masih diperban tipis, ia menghela napas panjang.

"Kamu harus lebih hati-hati, Nad," katanya.

"Nggak boleh naik kendaraan umum dulu."

"Kalau ke mana-mana, kabarin aku."

Lihat selengkapnya