POV NADIRA
Aku duduk di bangku bulat melingkar di area tunggu bioskop. Laptop terbuka di pangkuanku. Jari-jariku bergerak cepat, menuntaskan satu paragraf terakhir.
Dodi datang dan duduk di sampingku, membawa satu bucket popcorn.
"Udah beres revisiannya?" tanyanya. "Setengah jam lagi film kita diputer."
Aku mengangguk tanpa menoleh. "Udah hampir."
Aku menutup laptop setengah. "Ke toilet dulu ya. Titip laptop aku."
Aku menyerahkan laptop itu padanya, lalu berdiri dan berjalan cepat menuju toilet sebelum rasa bersalah sempat muncul.
Di depan wastafel, aku menarik napas. Menatap bayanganku sendiri. Sebentar lagi, kataku dalam hati. Tinggal kirim.
Saat aku kembali, Dodi sudah duduk di posisi yang sama. Laptopku ada di tangannya—tertutup seperti semula.
Aku tidak tahu apa yang ia lihat tadi. Apakah ia membaca apa yang tadi aku kerjakan? Aku tidak terlalu memedulikannya. Aku memasukkan laptop ke dalam tas tanpa membuka lagi. "Yuk," kataku pelan. "Udah mau masuk."
Dodi mengangguk. "Iya."
Kami masuk ke dalam studio.
**********
Lampu padam. Film dimulai.
Biasanya, bioskop adalah tempat paling mudah bagiku untuk tenggelam. Tapi malam itu, layar terasa jauh. Suara film terdengar seperti lewat saja.
Dodi duduk di sampingku. Diam.
Aku melirik. Popcorn di tangannya masih utuh. Ia tidak menyentuhnya sejak lampu padam.
Aku menoleh sedikit. "Kamu gak mau popcorn-nya?"
Dodi menoleh ke arahku, lalu mengangguk pelan. "Oh. Iya."
Ia mengambil segenggam dan mulai makan. Gerakannya biasa saja. Tidak tergesa. Tidak juga bersemangat.
Aku kembali menatap layar. Tapi perhatianku tidak ada di sana.
Ada sesuatu yang tertinggal di udara di antara kami—sesuatu yang belum disebut, belum dipertanyakan, tapi sudah terasa.
Di ruang gelap itu, aku tahu satu hal dengan pasti: bukan karena Dodi melihat layar laptopku, melainkan karena aku tidak lagi sepenuhnya jujur, jarak itu mulai ada.
********
Setelah Bioskop
Kami keluar dari studio bioskop bersama arus orang-orang lain. Lampu lorong kembali terang, suara percakapan bercampur tawa penonton lain.
"Filmnya seru gak, kata kamu?" tanyaku, mencoba terdengar biasa.
Dodi mengangkat bahu. "Kurang ah," katanya. "Gak seseru trailer-nya."
Aku mengangguk. "Iya sih."