POV NADIRA
Di Restoran Rooftoop
Aku sudah duduk lebih dulu di restoran rooftop mall itu. Angin malam berembus pelan, lampu-lampu kota menyala di kejauhan. Di meja kecil di depanku, dua piring spaghetti sudah tersaji, masih mengepul tipis.
Dodi datang beberapa menit kemudian. Ia duduk di seberangku, meletakkan ponselnya di meja.
"Udah beres meeting-nya?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Iya."
"Tumben cepet."
"Bosnya juga mau pergi lagi," jawabku singkat.
Aku mendorong satu piring ke arahnya.
"Nih, spaghetti kamu."
"Makasih."
Kami mulai makan. Suasana ramai tapi tidak bising. Musik pelan, suara gelas dan sendok beradu samar-samar.
Dodi memperhatikanku beberapa detik lebih lama dari biasanya.
"Nad," katanya akhirnya, "kamu kayaknya agak berubah."
Aku mengangkat kepala.
"Berubah gimana?"
"Ya... jadi pendiem aja gitu."
Aku terkekeh kecil.
"Kan kamu bilang aku ini pendiem. Ya wajar dong kalau aku diem."
Dodi menggeleng pelan.
"Kamu kan diemnya ke orang yang gak deket sama kamu," katanya.
"Kalau sama yang udah deket... kamu bisa lebih cerewet daripada aku."
Aku tersenyum.
"Enggak ah. Aku ngerasa biasa aja. Gak berubah."
"Bener?" Dodi menatapku. "Bukan karena tekanan kerjaan?"
Aku mengangguk.
"Enggak."
Ia diam sebentar, seolah menimbang apakah akan melanjutkan. Lalu suaranya jadi lebih hati-hati.
"Hm... Nad. Besok kamu ada acara gak?"
Aku menggeleng.
"Enggak."
"Besok ada arisan keluarga besar di rumahku," katanya.