POV NADIRA
Aku membuka pintu kamar kosan pelan, seolah takut mengganggu sesuatu yang ikut pulang bersamaku malam ini. Lampu belum aku nyalakan. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar.
Aku menaruh tas di kursi, melepas sepatu, lalu duduk di tepi kasur tanpa menyalakan apa pun. Pandangan mataku jatuh ke dinding. Foto box itu masih ada di sana.
Aku berdiri, mendekati foto itu. Empat foto kecil dalam satu lembar. Wajah kami kaku, pose tidak karuan, ekspresi setengah bingung setengah ketawa.
Dodi tampak terlalu serius di satu frame, terlalu santai di frame lain. Aku terlihat canggung—tapi bahagia.
Dadaku menghangat, lalu pelan-pelan mengencang. Aku teringat hari itu. Hari ketika aku, untuk pertama kalinya dalam hidupku, menyatakan perasaan lebih dulu. Duduk di bawah salah satu pohon yang ada di kampus. Aku berusaha setenang mungkin dan sedewasa mungkin. Aku ingat betul bagaimana Dodi hanya diam dan menyimak. Aku ingat saat menggunakan lomba cerdas cermat sebagai metafora.
Lalu ingatan bergeser ke hari Ketika Dodi menembakku. Cara ia gugup—Dodi yang biasanya begitu yakin, tiba-tiba salah memilih kata. Cara ia menggaruk lehernya sendiri, mengipas wajahnya, lalu tertawa canggung ketika aku mengangguk setuju.
"Jadi... kita resmi ya?"