POV NADIRA
Kafe itu hampir tutup. Lampu-lampunya dikecilkan, menyisakan cahaya kuning yang jatuh lembut di meja-meja.
Beberapa orang masih duduk, berbicara pelan, seolah sama-sama tidak ingin malam berakhir terlalu cepat.
Aku dan Dodi duduk di sudut. Dua cangkir kopi sudah tinggal separuh dingin.
Laptopku tertutup di atas meja, untuk pertama kalinya malam itu.
"Kamu capek?" Dodi bertanya sambil mengaduk kopinya yang sudah tidak perlu diaduk.
Aku menggeleng.
"Biasa."
Dodi mengangguk, lalu menatapku sebentar. Tatapannya bukan menuduh. Lebih seperti mencoba memahami.
"Nad... aku mau nanya satu hal," katanya akhirnya. "Jawab jujur aja."
Aku mengangguk kecil.
"Kamu beneran mau jalanin ini terus?"
"Ini" yang dia maksud tidak perlu dijelaskan. Kami sama-sama tahu.
"Kontrakku dua tahun," jawabku pelan. "Masih ada waktu."
Dodi menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Dua tahun itu lama, Nad."
Aku tersenyum tipis.
"Iya."
"Kalau selama dua tahun itu kamu terus kayak gini," lanjutnya hati-hati, "apa gak sayang waktunya?"
Aku menatap permukaan meja. Serat kayunya terlihat jelas, seperti garis-garis halus yang saling bersilangan.
"Aku mau nyelesain kontrakku dulu," kataku akhirnya. Nadaku tenang. Bahkan terlalu tenang.
"Setelah itu... baru lihat lagi."
Dodi terdiam. Ia tidak membantah. Tidak menyela. Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya—bukan marah, bukan kecewa yang meledak. Lebih seperti... kecewa yang ditahan.
"Kamu yakin?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
"Iya."
Dodi menghela napas, mengangguk balik.
"Oke."
Tidak ada kalimat lanjutan, nasihat ataupun dorongan. Kami kembali diam.
*******
Yang Dodi Kira
Di waktu yang lain, kami duduk berhadapan di kafe yang sama, tapi rasanya tidak lagi setara.
Dodi memegang ponselnya, membalik layar, lalu menaruhnya kembali—gelisah yang ia sembunyikan setengah hati.
"Kamu belakangan jarang cerita," katanya akhirnya.
Aku mengangkat kepala.
"Cerita apa?"