Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #53

Bab 47 : Hal-Hal yang Tidak Lagi Diceritakan

Pukul lima sore, Nadira masih duduk di depan laptopnya.

Layar Final Draft memenuhi pandangannya. Baris demi baris dialog memenuhi halaman yang sejak siang tadi berusaha ia selesaikan. Di meja kecil kosannya tergeletak gelas kopi yang sudah dingin dan beberapa lembar catatan yang penuh coretan.

Ponselnya bergetar. Nama Dodi muncul di layar. Nadira meraih ponselnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

"Halo?"

"Di mana?"

"Dikosan."

"Sibuk?"

"Ngerjain revisi."

Ada jeda kecil di seberang.

"Laper?"

Nadira tersenyum tipis.

"Sedikit."

"Aku ke sana ya."

"Oke."

Telepon ditutup. Nadira kembali mengetik.

Beberapa menit kemudian suara notifikasi pesan masuk terdengar.

Udah sampai bawah.

Nadira menyimpan file pekerjaannya lalu memasukkan laptop ke dalam tas.

*******

Langit Jakarta mulai berubah jingga ketika mereka berjalan menuju sebuah kafe kecil tak jauh dari kosan Nadira. Kafe itu tidak besar. Hanya beberapa meja kayu, lampu gantung berwarna kuning hangat, dan aroma kopi yang selalu mengingatkan Nadira pada sore-sore yang lambat.

Mereka memilih duduk di dekat jendela. Begitu pesanan datang, Nadira langsung membuka laptopnya lagi. Dodi memperhatikannya sambil tersenyum geli.

"Kamu tuh ya."

"Apa?"

"Belum lima menit duduk."

Nadira hanya tertawa kecil. Deadline lebih dekat daripada rasa bersalah. Mereka pun mulai makan.

Dodi baru menghabiskan beberapa suap ketika ia berkata, "Kamu udah baca belum email alumni koran kampus?"

Nadira masih mengetik.

"Hm?"

"Yang dari grup alumni."

Nadira berhenti sebentar.

"Belum."

"Sabtu ini mereka ngadain upgrading buat anggota baru."

Lihat selengkapnya