Yang Tidak Kita Pilih

Dwitia Yanuanti
Chapter #54

Bab 48 : Nostalgia di Kota yang Pernah Jadi Rumah

Sabtu pagi, Dodi sudah menunggu di depan kosan ketika Nadira keluar. Dodi mengenakan kaus abu-abu sederhana dan celana jeans gelap. Tidak ada kemeja kantor. Tidak ada tas kerja. Hanya dirinya yang terlihat beberapa tahun lebih muda saat berpakaian seperti itu.

"Nggak telat kan?" tanya Nadira.

Dodi melirik jam tangannya.

"Dua menit."

"Itu masih belum telat."

"Tergantung siapa yang ngomong."

Nadira terkekeh pelan. Laptop tetap berada di dalam tas ranselnya.

Dodi memperhatikannya.

"Kamu serius bawa itu?"

"Jaga-jaga."

"Libur yang luar biasa."

"Terima kasih."

Mereka tertawa.

Perjalanan menuju Jatinangor dimulai seperti perjalanan-perjalanan lain yang pernah mereka lakukan bertahun-tahun lalu. Ringan. Tenang. Tanpa membicarakan pekerjaan ataupun masa depan. Tanpa membicarakan hal-hal yang belakangan sering membuat percakapan terasa berat.

Mereka membicarakan lagu-lagu lama. Teman-teman kampus. Warung favorit yang dulu sering mereka datangi. Hal-hal sederhana yang terasa aman. Sesekali Dodi melirik ke arah Nadira.

Beberapa kali Nadira membuka ponselnya. Mengecek notifikasi. Membalas pesan singkat. Lalu menyimpannya lagi.

Dodi tidak mengatakan apa-apa. Sampai akhirnya ponsel Nadira berdering. Nama atasannya muncul di layar. Nadira mengangkat panggilan itu.

"Halo, Mas."

Beberapa detik ia mendengarkan.

"Iya, tapi hari ini aku libur."

Ia melirik Dodi sekilas.

"Novi sama Icha yang standby hari ini."

Jeda.

"Oh, udah aku kirim semalam."

Jeda lagi.

"Siap. Nanti Senin aku cek lagi."

Telepon ditutup. Mobil kembali hening. Dodi tetap fokus menyetir, tidak berkomentar, tidak bertanya, tidak menghela napas. Dia tidak melakukan apa pun. Namun entah kenapa Nadira bisa menebak isi kepalanya. Atau mungkin hanya isi kepalanya sendiri yang terlalu sering menebak. Untuk mengalihkan pikiran itu, Nadira menunjuk keluar jendela.

"Inget nggak dulu kita pernah nyasar di jalan itu?"

Dodi tertawa.

"Yang gara-gara kamu yakin jalan pintas?"

"Eh, ternyata memang lebih cepat."

"Setelah muter tiga puluh menit."

"Detail yang nggak penting."

Dodi menggeleng sambil tersenyum. Nadira ikut tertawa, kemudian ia menatap Dodi serius.

"Eh, Dod..."

"Hm."

"Nanti kalau sempat sebelum pulang, kita makan mie dulu yuk."

Dodi menoleh sekilas.

"Mie yang dekat gerbang lama kampus?"

Nadira mengangguk cepat.

"Iya."

Dodi tertawa.

"Mudah-mudahan masih ada yang jualan."

"Masih lah."

"Katanya sekarang Jatinangor udah berubah."

"Seberubah apa sih?"

"Udah kayak kota."

Nadira menatap keluar jendela. Entah kenapa kalimat itu terasa aneh. Jatinangor yang selama ini hidup dalam kepalanya masih sama seperti dulu. Masih penuh pohon, penuh mahasiswa, penuh kemungkinan.

Mereka menghabiskan sisa perjalanan dengan bernostalgia. Tentang angkot, tentang warung kopi, tentang gedung fakultas yang dulu terasa sangat besar. Tentang hujan-hujan yang pernah mereka lalui. Tanpa terasa, perjalanan Jakarta–Jatinangor selesai begitu saja.

Begitu turun dari mobil, Nadira langsung menghirup udara yang terasa berbeda.

"Aneh ya."

"Apa?"

"Baunya masih sama."

Dodi tertawa.

"Kamu bisa ngenalin bau kota?"

"Bisa."

"Hebat."

Mereka berjalan menuju lokasi acara. Beberapa alumni sudah berkumpul. Dan seperti yang diduga, wajah-wajah lama mulai bermunculan.

"Eh!"

Lihat selengkapnya