POV NADIRA
Minggu selalu terasa lebih sunyi ketika hujan turun.
Sejak pagi, aku tidak pergi ke mana-mana. Tidak ke mal, tidak ke toko buku, tidak juga menerima ajakan teman. Aku hanya duduk di depan laptop di kamar kos-ku.
Baru sekarang setelah sekian lama, tidak ada revisi. Tidak ada deadline. Tidak ada pesan dari tim produksi. Hanya diriku sendiri dan pikiranku.
Ponselku tergeletak di samping laptop. Nama Dodi masih ada di layar. Pesan terakhir yang dikirimnya semalam adalah pesan sederhana. Tidak ada yang salah, seperti biasanya. Justru itu masalahnya.
Aku memejamkan mata sebentar. Lalu membuka pesan itu kembali.
Aku mencintai Dodi. Kalau harus jujur, mungkin itu masalahnya. Karena tidak ada yang lebih membingungkan daripada menyadari bahwa orang yang paling kamu cintai juga orang yang perlahan membuatmu tidak mengenali dirimu sendiri.
Di depanku, layar ponsel masih menyala. Nama Dodi terpampang di sana. Sudah hampir satu jam. Satu jam aku membaca pesan terakhirnya berulang-ulang, seolah susunan kata yang sama akan menghasilkan jawaban yang berbeda.
Aku mengusap wajah pelan.
Di luar jendela kamar kos, Jakarta sedang hujan. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah. Kota ini tetap berjalan seperti biasa, seakan tidak ada apa pun yang sedang runtuh di dalam dadaku.
Aku menarik napas panjang. Lalu membuka galeri ponsel.
Foto pertama. Aku dan Dodi di dekat kampus. Aku masih memakai jaket himpunan. Dodi tersenyum ke kamera sambil mengangkat dua jari.
Foto kedua. Wisudaku.
Foto ketiga. Semangkuk mie rebus yang kami makan pada Minggu sore yang malas.
Foto keempat. Tangan kami.
Foto kelima. Kami.
Selalu kami. Lima tahun ternyata bisa disimpan dalam beberapa sentuhan layar. Lucunya, selama ini aku selalu berpikir jika hubungan ini berakhir, Dodi yang akan pergi lebih dulu.
Dodi yang lebih pintar. Dodi yang lebih dewasa. Dodi yang hidupnya selalu tampak lebih terarah daripada hidupku.
Aku sudah berkali-kali membayangkan kemungkinan itu. Membayangkan diriku ditinggalkan. Membayangkan diriku patah hati. Membayangkan diriku belajar menerima.
Yang tidak pernah kubayangkan adalah ini. Bahwa suatu hari aku akan duduk sendirian, memandangi nama laki-laki yang masih kucintai sepenuh hatiādan memutuskan untuk pergi.
Bukan karena ada perempuan lain. Bukan karena kami berhenti saling mencintai. Bukan karena ada kesalahan besar yang bisa ditunjuk dengan mudah. Justru karena tidak ada.
Karena kadang-kadang hubungan tidak berakhir saat cinta hilang. Kadang hubungan berakhir ketika seseorang bercermin dan bertanya: sejak kapan aku berhenti menjadi diriku sendiri?
Ponsel di tanganku bergetar. Nama Dodi kembali muncul di layar. Aku menatapnya lama. Lalu untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, aku membiarkan panggilan itu berlalu tanpa kujawab.
Hening kembali memenuhi kamar. Aku menutup galeri foto di ponselku. Lalu membuka dokumen kosong di laptop. Kursor berkedip di layar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian aku mulai mengetik.
********
Untuk Dodi,
Aku nggak tahu surat ini akan pernah kamu baca atau nggak. Mungkin nggak. Mungkin memang seharusnya nggak.
Tapi untuk sekali ini, aku pengen jujur tanpa takut bikin kamu kecewa.
Aku capek, Dod. Bukan capek sama hubungan kita. Bukan capek sama kamu.
Aku capek karena akhir-akhir ini aku merasa harus terus menjelaskan diriku sendiri. Aku tahu kamu sayang sama aku. Aku nggak pernah meragukan itu.