Ajakan Dodi
Dodi membuka pintu kamarnya dengan tubuh yang masih membawa sisa lelah kerja. Jaket ia gantung asal, tas kerja ia taruh di kursi. Lampu kamar dinyalakan.
Pandangan matanya langsung tertuju ke dinding. Foto box itu. Ia berdiri sebentar, menatapnya. Empat frame kecil. Wajah mereka berdua yang kaku, pose yang asal, senyum yang tidak dibuat-buat. Nadira tertawa lepas di satu frame—tawa yang jarang, tapi selalu membuat Dodi merasa di rumah.
Dodi menghela napas pelan.
"Rasanya kangen liat kamu ketawa lepas kayak gini lagi," gumamnya.
Ia meraih ponsel tanpa banyak pikir.
Tut... sambung.
"Nad..."
"Iya?" suara Nadira terdengar di ujung sana. Tenang. Biasa.
"Kamu sehat kan?" tanyanya spontan.
"Iya."
"Soalnya selama weekdays ini kita gak ketemu, aku sibuk kerja sama ngurusin S2" lanjut Dodi. "Aku kepikiran aja."
"Aku kerja ngetik di kosan aja," jawab Nadira. "Gak ada keluar meeting sama tim."
Dodi mengangguk meski Nadira tak bisa melihatnya.